Iklan Astra Motor

Kehilangan Gigi pada Lansia, Ancaman Tersembunyi bagi Fungsi Otak

Kehilangan Gigi pada Lansia, Ancaman Tersembunyi bagi Fungsi Otak

Rizki Nurul Fatimah, S.Kp.G., M.K.M, Dosen Diploma 3 Teknik Gigi Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang.--ist

Oleh: Rizki Nurul Fatimah, S.Kp.G., M.K.M

Dosen Diploma 3 Teknik Gigi Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang

 

KESEHATAN gigi dan mulut merupakan komponen integral dari kesehatan umum yang sering kali diabaikan oleh masyarakat. 

Kondisi rongga mulut yang kurang terawat tidak hanya menyebabkan penyakit lokal seperti gigi berlubang, gusi berdarah dan periodontitis, tetapi juga dapat berpotensi memengaruhi kesehatan sistemik melalui mekanisme inflamasi dan infeksi kronis. 

Artikel ini mengulas mengenai hubungan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognitif otak khususnya pada lansia, sekaligus menegaskan urgensi promosi kesehatan gigi dan mulut di seluruh tahap kehidupan.

Bagi sebagian orang lanjut usia, kehilangan gigi sering dianggap sebagai bagian alami dari proses menua. 

Gigi tanggal, gigi goyang, atau bahkan tidak bergigi sama sekali kerap dipandang sekadar persoalan estetika atau kemampuan mengunyah. 

BACA JUGA:Cegah Gigi Berlubang, DWP Palembang Edukasi Kesehatan Gigi

Padahal, di balik itu semua, kehilangan gigi ternyata dapat berdampak lebih luas, termasuk pada fungsi otak dan kemampuan kognitif lansia, seperti yang diungkap Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam Profil Kesehatan Lansia di Indonesia tahun 2018.

Proses mengunyah memiliki peran penting dalam merangsang kerja otak. Saat seseorang mengunyah makanan, aliran darah ke otak meningkat, khususnya ke area yang berperan dalam memori dan konsentrasi. 

Aktivitas ini membantu menjaga sel-sel otak tetap aktif dan berfungsi dengan baik. Ketika gigi berkurang atau hilang, kemampuan mengunyah menjadi tidak optimal. Lansia cenderung memilih makanan lunak yang minim rangsangan kunyah. 

Menurut Stewart, R., et al. dalam artikelnya yang berjudul Oral health and cognitive function in older age yang terbit dalam Journal of the American Geriatrics Society tahun 2015, berkurangnya aktivitas mengunyah ini dapat menyebabkan penurunan stimulasi saraf otak dalam jangka Panjang.

BACA JUGA:SUV Premium Diesel Rasa Sultan, GWM Tank 500 Tantang Fortuner & Pajero Sport

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: