Dari Sakotak Lebah dan Setetes Madu, Asa Itu Kembali Tumbuh
Bustam (65), seorang petani penerima mafaat efek berganda hulu migas berdiri memperhatikan kotak-kotak lebah yang berjajar rapi.-Foto: Maryati Palpos-
PAGI baru saja merekah di Desa Aur Duri, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim. Udara masih menyimpan sisa embun ketika puluhan lebah mulai berterbangan meninggalkan sarangnya. Mereka bergerak lincah dari satu bunga ke bunga lain, mengumpulkan nektar yang kelak berubah menjadi cairan keemasan bernama madu.
Di sudut peternakan itu, Bustam (65) berdiri memperhatikan kotak-kotak lebah yang berjajar rapi. Sesekali senyumnya mereka melihat aktivitas para serangga pekerja itu. Sulit membayangkan, beberapa tahun lalu tepatnya tahun 2019 tempat yang kini penuh kehidupan tersebut nyaris menjadi kenangan.
Sebab pada masa itu satwa liar jenis beruang tiba-tiba saja datang menjarah kotak-kotak madu milik Bustam dan peternak madu yang tergabung dalam Kelompok Budidaya Lebah Madu Karya Maju Bersama, nyaris tanpa sisa.
BACA JUGA:Ngopi Bareng Warga, Polres Lubuklinggau Sosialisasikan Call Center 110
BACA JUGA:Masjid Syarif Hidayat Sembelih 10 Sapi dan 1 Kambing Kurban, Jemaah Antusias Gotong Royong
Bagi Bustam, lebah bukan sekadar hewan penghasil madu. Mereka adalah bagian dari perjalanan hidupnya.
Diceritakan Kakek dari enam cucu itu, semua bermula pada 2007 ketika ia mengikuti pelatihan budidaya lebah yang diselenggarakan pemerintah. Saat itu, kesehariannya dihabiskan sebagai petani karet. Seperti kebanyakan warga desa, hidupnya bergantung pada harga getah yang naik turun tanpa bisa ditebak.
Rasa penasaran membawanya mencoba memelihara lebah madu hutan. Awalnya hanya sekadar usaha sampingan. Namun siapa sangka, dari kotak-kotak kayu sederhana itu, ia menemukan sumber penghidupan baru.
BACA JUGA:Bisnis Hewan Kurban Mulai Ramai, Peternak di Lubuklinggau Kebanjiran Permintaan Jelang Idul Adha
BACA JUGA:Lolos Seleksi Administrasi, 3 Calon Direktur PDAM Tirta Bukit Sulap Bakal Bersaing pada Tahap UKK
Tahun demi tahun berlalu. Koloni lebah terus bertambah. Madu mulai dipanen. Sedikit demi sedikit, hingga Bustam bertekad untuk mengembangkan usaha budidaya lebah madu miliknya.
Pada 2015, Bustam bergabung dengan kelompok peternak madu di desanya. Setahun kemudian, angin perubahan datang.
Melalui program pemberdayaan masyarakat dari SKK Migas dan PT Medco E&P Lematang, para peternak mendapatkan berbagai pelatihan, bantuan sarana budidaya, peralatan pengolahan, hingga pendampingan legalitas produk.
BACA JUGA:Resmikan Kedai Majo Presisi, Kapolres: Cara Baru Polisi di LubukLinggau Bangun Kedekatan dengan Warga
Apa yang sebelumnya hanya usaha kecil perlahan menjelma menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Kotak-kotak lebah bertambah. Produksi meningkat. Harapan tumbuh.
"Kalau tahun 2017 sampai 2018, produksi madu kami bisa mencapai satu ton setahun," kenang Bustam.
Satu ton madu. Angka yang mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang bahkan terlalu kecil untuk skala industri. Namun bagi seorang petani desa, itu adalah bukti bahwa kerja keras dan kesempatan bisa mengubah kehidupan.
Saat harga karet tak menentu, madu menjadi penopang ekonomi keluarga. Dari hasil panen itulah kebutuhan rumah tangga terpenuhi, anak-anak disekolahkan dan masa depan perlahan disusun.
Desa Aur Duri saat itu seolah menemukan manisnya harapan baru.
Namun kehidupan, seperti alam, tak selalu berjalan sesuai keinginan.
Tahun 2019 menjadi titik balik yang tak pernah dibayangkan oleh ayah dari tiga anak ini.
Suatu hari, seekor beruang liar masuk ke area peternakan. Hewan penghuni hutan itu rupanya tertarik pada koloni lebah dan madu yang tersimpan di dalam kotak-kotak kayu.
Yang terjadi setelahnya adalah pemandangan yang membuat hati para peternak remuk.
Kotak-kotak lebah yang selama bertahun-tahun dirawat dengan ketelatenan penuh luluh lantak nyaris tak tersisa.
Koloni lebah tercerai-berai. Madu yang siap dipanen lenyap begitu saja.
"Yang tersisa hanya satu kotak," ujar suami dari Suyati ini dengan nada lemah seolah tak sanggup menceritakan Kembali kisah keterpurukannya saat itu.
Puluhan kotak lebah yang menjadi sumber penghasilan hilang dalam waktu singkat. Kerugian bukan hanya soal uang, tetapi juga tentang harapan yang runtuh menyisahkan kesedihan dan luka yang hanya bisa dirasakan Bustam dan kelompok peternak lebah madu di Desanya.
Di tengah keterpurukan itu, mereka menghadapi kenyataan lain. Beruang yang merusak peternakan tidak bisa disalahkan begitu saja. Satwa tersebut merupakan hewan yang dilindungi.
Mereka tidak bisa melawan atau membalas kekejaman satwa yang telah menghancurkan harapan hidup mereka kedan.
Ditengah keputusasaan itu, sebagian peternak memilih menyerah, sebagaian memilih bertahan.
Dari situ lahirlah sebuah ide sederhana. Pagar seng.Bukan pagar beton yang kokoh. Bukan pula teknologi mahal. Hanya lembaran-lembaran seng yang dipasang mengelilingi area peternakan.
Menurut Bustam, beruang tidak menyukai suara nyaring yang muncul ketika seng terguncang. Suara gaduh itu menjadi alarm alami yang membuat satwa liar itu menjauh.
Ide sederhana tersebut kemudian mendapat dukungan dari PT Medco E&P Lematang. Area peternakan diproteksi. Koloni lebah mulai dibangun kembali.
Satu kotak yang tersisa menjadi titik awal kebangkitan.
Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Koloni lebah bertambah lagi.
Kini, ketika matahari pagi menyinari peternakan di Desa Aur Duri, suara dengung lebah kembali memenuhi udara.
Bustam kini sudah memiliki sekitar 70 kotak lebah produktif. Belum sebanyak masa kejayaan dahulu. Belum menghasilkan satu ton madu setiap tahun.
Tetapi bagi Bustam, angka itu bukan lagi yang terpenting. Yang jauh lebih berarti adalah kenyataan bahwa ia masih bisa bertahan. Masih bisa memanen madu setiap dua atau tiga bulan sekali. Masih bisa membantu kebutuhan keluarga di usia yang tidak lagi muda.
"Sekarang umur saya sudah masuk kadaluarsa," selorohnya sambil tertawa kecil.
Tawa itu terdengar ringan. Namun di baliknya tersimpan cerita panjang tentang perjuangan, kehilangan dan keteguhan.
Ia sadar tenaganya tak lagi sekuat dulu untuk menyadap karet di pagi hari dan mengumpulkan getahnya pada petang hari. Aktivitas itu sudah terlalu melelahkan untuk usianya.
Tetapi lebah-lebah itu masih bekerja. Selama mereka masih terbang mencari nektar, harapan itu tetap ada.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:





