Effleurage Massage Terhadap Penurunan Nyeri Dismenore Pada Remaja Putri
Nurayuda,SST.,M.Kes, Poltekkes Kemenkes Palembang.-Foto: Nurayuda, SST.,M.Kes-
Oleh: Nurayuda,SST.,M.Kes
Poltekkes Kemenkes Palembang
REMAJA ialah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada periode ini terjadi berbagai perubahan, baik perubahan hormonal, fisik, psikologis, maupun sosial.
Perubahan tersebut berlangsung dengan cepat. Perubahan fisik yang paling menonjol adalah berkembangnya tanda-tanda seks sekunder, terjadinya pacu tumbuh, serta perubahan perilaku dan hubungan sosial dengan lingkungannya (Kementerian Kesehatan RI, 2023).
Remaja putri yang telah memasuki masa pubertas akan mengalami menstruasi setiap bulannya.
Menstruasi merupakan proses fisiologis yang normal terjadi pada wanita sebagai tanda bahwa sistem reproduksi telah matang.
Siklus menstruasi umumnya terjadi setiap bulan, meskipun tidak semua wanita memiliki siklus yang sama.
Sebagian besar wanita, khususnya remaja, sering mengalami keluhan selama periode menstruasi, seperti nyeri haid atau dismenore (menstrual cramps).
Dismenore mengacu pada nyeri berupa kram pada perut bagian bawah yang dapat menjalar hingga ke punggung bawah atau pinggang akibat kontraksi uterus selama menstruasi (American College of Obstetricians and Gynecologists [ACOG], 2023).
Kram terjadi akibat kontraksi rahim yang dipicu oleh peningkatan produksi prostaglandin selama menstruasi.
Kontraksi tersebut merupakan proses fisiologis yang normal dan umumnya mulai dirasakan sejak awal perdarahan menstruasi serta dapat berlangsung selama 24–72 jam.
Pada dasarnya nyeri menstruasi merupakan kondisi yang umum terjadi. Sebagian besar wanita mengalami nyeri ringan hingga sedang, namun pada sebagian lainnya nyeri dapat berlangsung lebih berat sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan menyebabkan ketidakhadiran di sekolah atau tempat kerja.
Kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas hidup wanita selama menstruasi (ACOG, 2023; World Health Organization, 2024).
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa prevalensi dismenore pada remaja masih cukup tinggi di berbagai negara.
Studi sistematik terbaru melaporkan bahwa prevalensi dismenore berkisar antara 50–90% pada remaja dan wanita usia reproduksi, dengan sebagian besar merupakan dismenore primer.
Di Indonesia, prevalensi dismenore juga masih tergolong tinggi, yaitu sekitar 60–80%, dan sebagian besar dialami oleh remaja putri (Sari et al., 2024; Kementerian Kesehatan RI, 2023).
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi dismenore saat menstruasi, yaitu melalui terapi farmakologi maupun nonfarmakologi.
Terapi farmakologi yang paling sering digunakan adalah obat golongan Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID), seperti asam mefenamat, ibuprofen, dan naproksen, yang bekerja
menghambat pembentukan prostaglandin sehingga mampu mengurangi nyeri. Meskipun efektif, penggunaan NSAID dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping, terutama pada saluran pencernaan dan ginjal.
Oleh karena itu, terapi nonfarmakologi semakin banyak direkomendasikan sebagai terapi pendamping, seperti massage, olahraga ringan, kompres hangat, relaksasi, konsumsi buah dan sayur, serta mengurangi konsumsi gula dan kafein (ACOG, 2023; WHO, 2024).
Massage merupakan salah satu terapi komplementer yang dilakukan melalui manipulasi jaringan lunak dengan teknik menekan atau mengusap bagian tubuh tertentu secara langsung.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



