Penjualan Seragam Sekolah Anjlok, Konon Ini Penyebabnya
Aktivitas di salah satu toko pakaian sekolah di Pasar Atas Baturaja yang kini sepi pembeli.-Foto:Eko palpos-
BATURAJA, PALPOS.CO – Pedagang seragam sekolah di Kota Baturaja mengeluhkan penjualan mereka anjlok.
Para orang tua tak lagi membeli seragam sekolah di pasaran, karena sudah “diblok” pihak sekolah yang menerapkan sistem pemesanan dan pembelian seragam terpusat melalui pihak sekolah atau pihak yang ditunjuk.
Imbasnya, pedagang seragam sekolah yang biasanya “panen” di tahun ajaran baru, harus gigit jari. Dan kondisi ini sudah terjadi sejak beberapa tahun belakangan. Penjualan turun drastis.
“Dulu saat mendaftar ulang, orang tua langsung ke sini mencari ukuran yang pas. Sekarang mereka hanya diberi formulir dari sekolah, pengukuran fisik siswa kemudian membayar lunas di sana, lalu mengambilnya nanti.
BACA JUGA:Empat Wilayah di Sumsel Tertinggi Hotspot, Kabupaten OKU Salah Satunya
BACA JUGA:Dinsos OKU Dampingi Penjaringan 60 Calon Siswa Sekolah Rakyat
Kami hampir tidak mendapat pesanan sama sekali,” ujar pemilik toko seragam sekolah AA, Minggu (12/7).
Menurutnya, penjualan seragam sudah di mulai sekitar 20 Juni 2026 bersamaan dibukanya pendaftaran sekolah.
“Sekitar 5 kodi (isi 20 pakaian sekolah) terjual perharinya, berbalik pada tahun yang lalu penjualan didominasi pakaian SD, 30 pakaian dan celana sekolah dapat terjual setiap hari. Namun hal ini berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya, Saat ini penjualan merosot,”jelasnya.
Keluhan senada disampaikan oleh Dina, pedagang perlengkapan sekolah lainnya, menyebutkan sistem terpusat ini membuat persaingan usaha menjadi tidak sehat.
BACA JUGA:BPBD OKU Padamkan Karhutla di Desa Terusan
BACA JUGA:Tim Dinkes OKU Turun ke Klinik BAZNAS OKU
Harga yang ditetapkan sekolah pun sering kali tidak jauh berbeda atau bahkan lebih mahal dibanding harga pasaran, namun orang tua tidak punya banyak pilihan karena dianggap sudah menjadi ketentuan wajib.
“Banyak pedagang kecil yang kini terpaksa mengurangi stok barang, memotong jam operasional, atau beralih ke jenis dagangan lain demi bertahan hidup, ” keluhnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



