Iklan BANNER IDUL ADHA MEDIA 1447 H - PEMPROV SUMS
Iklan Banner Hari Pers Nasional - Empat Lawang
Iklan Astra Motor

Wagub Cik Ujang Luncurkan Ekosistem GSMP-MBG.

Wagub Cik Ujang Luncurkan Ekosistem GSMP-MBG.

Wagub Cik Ujang Luncurkan Ekosistem GSMP-MBG. -Fhoto: humas pemprov sumsel-

PALPOS.CO - Wakil Gubernur Sumatera Selatan H. Cik Ujang secara resmi meluncurkan Pengembangan Ekosistem Rantai Pasok Gerakan Sumsel Mandiri Pangan–Makan Bergizi Gratis (GSMP-MBG) sekaligus memimpin Rapat Tingkat Tinggi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Kamis (30/7/2026).

Langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan pangan daerah, mendukung pelaksanaan program nasional, serta menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi melalui sistem rantai pasok yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dalam sambutannya, Wagub Cik Ujang menyampaikan rasa syukur atas capaian pembangunan pangan yang terus membaik.

Data tahun 2025 menunjukkan Indeks Ketahanan Pangan Sumsel mencapai 79,31, menempatkan daerah ini di peringkat keempat nasional.

BACA JUGA:Kolaborasi BPDP dan Kementan Perkuat Kapasitas Pekebun Sawit Sumatera Selatan

BACA JUGA:Pusri Perkuat Komitmen Lingkungan, Proklim Sungai Buah Menuju Level Nasional

Skor Pola Pangan Harapan pun mencapai 95,1, yang mencerminkan konsumsi masyarakat semakin beragam, bergizi, seimbang, dan aman.

Dari sisi gizi dan ekonomi, prevalensi kekurangan konsumsi pangan berada di angka 5,97 persen, sedangkan angka stunting turun menjadi 15,8 persen.

Persentase penduduk miskin per September 2025 tercatat 9,85 persen, sementara inflasi tahunan terkendali di 2,91 persen.

"Capaian ini adalah hasil kerja keras bersama, namun kita tidak boleh berpuas diri," tegas Cik Ujang.

BACA JUGA:Danlanud SMH Hadiri Launching Gerakan Sumsel Mandiri Pangan dan Program Makan Bergizi Gratis di Palembang

BACA JUGA:Membangun Empat Perilaku Unggul, BTPN Syariah Konsisten Perbaiki Kualitas, Pembiayaan Tumbuh 9% di Semester 1

Ia mengingatkan sejumlah tantangan ke depan, seperti dampak perubahan iklim, alih fungsi lahan, gangguan distribusi, hingga fluktuasi harga.

Oleh sebab itu, pembangunan pangan tidak lagi bisa berjalan secara terpisah, melainkan membutuhkan satu ekosistem yang menyatukan produksi, pengolahan, pembiayaan, distribusi, hingga pemasaran.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: