Sungai Enim Berubah, Diduga Tercemar Limbah Lumpur
TERCEMAS : Tampak kondisi air Sungai Enim berubah warna coklat pekat diduga tercemar limbah lumpur.-Foto:Dokumen Palpos-
MUARA ENIM, PALPOS.CO - Kondisi air Sungai Enim, dalam beberapa hari ini diduga tercemar limbah lumpur sehingga berubah warna coklat susu dan bercampur lumpur yang ikut air mengalir.
Padahal curah hujan masih relatif rendah karena belum masuk musim penghujan.
Jon Dries Ketua Fraksi PKS DPRD Muara Enim, mendapatkan informasi atas adanya air Sungai Enim yang telah berubah warna menjadi keruh tersebut, langsung turun kelapangan mengecek air sungai tepatnya di Jembatan Enim 2 Kota Muara Enim dan melakukan pengecekan alat pemantauan kondisi air baku Sungai Enim di KLHK108 PLTU Bukit Asam.
"Hasil pantauan benar kondisi air saat ini berubah warna dan diduga air enim sudah tercemar sedang dengan nilai BO yang tinggi," ujar Jon Dries, Kamis 24 September 2026.
BACA JUGA:Kemenkum Sumsel Tertibkan Pengelolaan Aset Negara melalui Lelang BMN
BACA JUGA:Kemenkum Sumsel Inventarisasi Pelanggaran Kekayaan Intelektual di Polres Musi Rawas
Dengan kondisi air baku Sungai Enim tersebut, kata dia, tentunya merugikan lingkungan dan kesehatan masyarakat karena masyarakat takut menggunakannya untuk keperluan lainya seperti mandi dan mencuci.
Jon Dries mendesak pihak terkait baik dinas lingkungan hidup dan instansi terkait segera turun untuk mengecek serta mengambil sample air dan umumkan hasilnya terbuka.
Selain itu perusahaan - perusahaan yang beroperaai segera tutup sumber pencemaran, perbaiki tanggul yagg rusak, sekat saluran pembuangan yang melanggar.
Netralisir aliran Sungai Enim agar normal kembali membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pengendapan zat padat sehingga nilai BO turun sebelum dibuang. Hal ini perlu dilakukan sebelum masuk musim penghujan.
BACA JUGA:Kemenkum Sumsel Teken PKS dengan 5 OPD, Perkuat Perlindungan Aset Daerah
BACA JUGA:Efisiensi Anggaran Tekan Bisnis Alkes di Sumsel, GAKESLAB Minta Pengadaan Libatkan Pengusaha Lokal
"Sungai Enim bukan milik perusahaan semata. Akan tetapi Singai Enim adalah urat nadi kehidupan kita bersama; sumber air, penopang pertanian, dan warisan untuk anak cucu.
Kerusakan akibat lumpur dan limbah lainnya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah, pengusaha, dan masyarakat harus bergerak bersama," pungkasnya.(ozi)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




