Coto Makassar : Warisan Kuliner Sulawesi Selatan yang Mendunia
Gurihnya kuah rempah, lembutnya daging, dan hangatnya kebersamaan.-Fhoto: Istimewa-
“Awalnya mereka heran karena warna kuahnya gelap, tapi setelah mencoba, mereka suka. Katanya, rasanya mirip sup daging tapi lebih kompleks,” ujarnya.
Lebih dari sekadar makanan, Coto Makassar merupakan simbol identitas budaya masyarakat Sulawesi Selatan.
Tradisi menikmati coto bersama keluarga atau sahabat sering menjadi momen kebersamaan yang hangat. Di banyak warung coto di Makassar, suasana akrab dan ramah menjadi ciri khas.
Pengunjung bisa duduk berjejer di bangku panjang, sambil menikmati seporsi coto panas yang disajikan dalam mangkuk kecil, ditemani percakapan ringan dan tawa.
Pemerintah Kota Makassar pun menjadikan Coto Makassar sebagai bagian dari promosi wisata kuliner daerah.
Setiap tahun, diadakan Festival Coto Makassar, yang menampilkan puluhan penjual coto dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Festival ini tidak hanya menarik wisatawan domestik, tetapi juga turis mancanegara yang ingin merasakan langsung cita rasa autentik kuliner khas ini.
Dalam era globalisasi, banyak kuliner tradisional yang terancam punah oleh modernisasi dan perubahan gaya hidup.
Namun, Coto Makassar tetap bertahan, bahkan semakin dikenal luas. Keberhasilan ini tidak lepas dari semangat masyarakat Makassar dalam melestarikan warisan kuliner leluhur.
“Coto itu bukan sekadar makanan. Ia adalah cerita, sejarah, dan kebanggaan orang Makassar,” kata H. Baharuddin, seorang budayawan Sulawesi Selatan.
Dengan rasa yang tak lekang oleh waktu dan filosofi yang mendalam, Coto Makassar membuktikan bahwa kuliner tradisional Indonesia memiliki daya hidup yang kuat.
Setiap sendok kuahnya bukan hanya menghadirkan kelezatan, tetapi juga membawa kisah panjang tentang identitas dan kehangatan budaya Nusantara.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

