Oknum Guru SMP di Prabumulih Dinonaktifkan Usai Diduga Lakukan Pelecehan Seksual Lewat Chat Mesum

Plt Kadisdik Prabumulih, A Darmadi SPd-Foto:dokumen palpos-
PRABUMULIH, PALPOS.ID - Dunia pendidikan di Kota Prabumulih kembali tercoreng dengan adanya dugaan tindakan asusila yang dilakukan oleh seorang oknum guru.
Seorang guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Prabumulih, berinisial D, resmi dinonaktifkan dari tugasnya sebagai pengajar setelah diduga melakukan pelecehan seksual terhadap siswinya melalui pesan singkat bernuansa mesum.
Kasus ini mencuat ke publik setelah tangkapan layar percakapan tidak senonoh antara guru tersebut dengan siswinya beredar luas di media sosial, khususnya Instagram dan Facebook, pada Rabu (27/8/2025).
Dalam tangkapan layar itu, tampak jelas bagaimana guru berinisial D mengirimkan pesan-pesan yang tidak pantas, bahkan mengajak siswi tersebut melakukan panggilan video (VC) dengan maksud cabul.
BACA JUGA:Warga Prabumulih Geger, Pria Ditemukan Tewas Tergantung di Dapur Rumah dengan Surat Perpisahan
BACA JUGA:Polda Sumsel Gelar Rotasi Jabatan, Tiga Pejabat Polres Prabumulih Ikut Bergeser
Salah satu percakapan yang beredar memperlihatkan sang guru menuliskan kalimat mesum yang seharusnya tidak pernah diucapkan seorang pendidik.
Sang siswi hanya memberikan jawaban singkat berupa kata “ai dh”, seolah enggan melayani percakapan lebih lanjut.
Namun guru tersebut justru mengirimkan balasan bernada cabul: “Nak di bawah ap di pucuk bapak, di pucuk bae ya, ngocok pake tangan”.
Unggahan ini sontak menuai reaksi keras dari warganet. Ribuan komentar bermunculan, sebagian besar berisi kecaman terhadap tindakan oknum guru tersebut.
BACA JUGA:Pemkot Prabumulih Serius Tangani Masalah Banjir, Drainase Jalan Sumatera Mulai Direhabilitasi
BACA JUGA:PPPK Kota Prabumulih Keluhkan Belum Cairnya Gaji Pasca Dilantik, Sekda Pastikan Segera Dicairkan
Salah satu akun menuliskan, “Astagfirullah SMP mano min, skr kami ado anak gadis SMP. Ya Allah jauhkan anak-anak kami dari guru cak ini.”
Komentar lain berbunyi, “Ngeri uy guru model mak ini. Harusnya jadi panutan malah ngajari hal-hal kotor.”
Fenomena ini pun membuat nama baik dunia pendidikan di Kota Prabumulih tercoreng.
Banyak pihak menilai kasus ini harus ditindaklanjuti secara serius, tidak hanya dari sisi administratif, tetapi juga hukum.
BACA JUGA:Dua Kali Beraksi, Pelaku Curat di Patih Galung Ditangkap Tekab Sunyi Senyap Polsek Prabumulih Barat
BACA JUGA:Gelora FC Juarai Turnamen Sepak Bola Walikota Prabumulih Cup 2025
Menanggapi polemik yang mencuat, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Prabumulih, A Darmadi SPd, angkat bicara.
Ia membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait dugaan perbuatan tidak senonoh tersebut.
“Sudah dapat informasinya, tapi saya belum melihat langsung chat tersebut.
Namun untuk sementara ini, guru tersebut sudah kita nonaktifkan. Artinya tidak mengajar lagi sejak Selasa (26/8),” tegas Darmadi.
Darmadi juga mengungkapkan bahwa guru berinisial D tersebut sudah mengajar cukup lama, sekitar 25 tahun, tanpa pernah ada laporan terkait perilaku menyimpang sebelumnya.
“Selama ini tidak pernah ada laporan yang aneh-aneh. Baru kali ini mencuat,” ujarnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam.
Saat ini, Dinas Pendidikan Prabumulih tengah melakukan klarifikasi lebih lanjut untuk memastikan kebenaran informasi.
Selain itu, pihak sekolah juga diminta memberikan pendampingan khusus kepada siswi yang menjadi korban.
“Terhadap korban, kita sudah instruksikan guru BK untuk melakukan pendampingan.
Jika dibutuhkan, kami juga akan menghadirkan psikiater agar kondisi psikologis korban tidak terganggu akibat kasus ini,” tambah Darmadi.
Kasus ini langsung menjadi perbincangan hangat di masyarakat.
Tidak sedikit orang tua murid merasa khawatir dengan keselamatan anak-anak mereka di sekolah.
Mereka menilai sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk pelecehan seksual.
Seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dirinya sangat terkejut saat mengetahui kabar ini.
“Kami sangat kecewa. Guru itu seharusnya menjadi teladan, bukan malah melakukan hal-hal yang tidak pantas. Saya harap pihak berwajib segera turun tangan,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan tokoh masyarakat setempat. Menurutnya, kasus ini tidak boleh dianggap remeh, apalagi terjadi di lingkungan pendidikan.
“Pelecehan seksual terhadap anak adalah pelanggaran berat. Jangan hanya dinonaktifkan, tapi juga harus diproses secara hukum. Kalau tidak, ini bisa jadi preseden buruk,” tegasnya. (abu)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: