Iklan Astra Motor

Pertamina Patra Niaga Dampingi Transformasi Rusun 26 Ilir Jadi Ruang Tumbuh Anak

Pertamina Patra Niaga Dampingi Transformasi Rusun 26 Ilir Jadi Ruang Tumbuh Anak

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Dampingi Perubahan Rusun 26 Ilir, dari Kawasan Rentan Jadi Ruang Tumbuh Anak-Foto:dokumen palpos-

PALPOS.CO - Kawasan rumah susun di Palembang yang dulu identik dengan penyalahgunaan obat terlarang, sampah liar, dan konflik sosial kini bertransformasi menjadi lingkungan yang lebih tertata dan produktif.

Perubahan ini berawal dari kepedulian Ibu Ocha yang pada 2017 mendirikan Kampung Literasi di Rumah Susun 26 Ilir, Kota Palembang, tempat ia dibesarkan, untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas hidup warga.

Berangkat dari keprihatinan atas rendahnya minat baca dan perhatian pada pendidikan serta kesehatan anak, Kampung Literasi hadir dalam keterbatasan.

Kegiatan belajar berpindah-pindah, bahkan sempat menempati bekas lokasi aktivitas terlarang dan tumpukan sampah.

BACA JUGA:Herman Deru Pimpin Apel Program Belida, Target Zero Lubang Jelang Lebaran

BACA JUGA:Edukasi UU Hak Cipta, Kanwil Kementerian Hukum Sumsel Bedah Perlindungan Karya Kreatif di Radio Sonora FM

Perlahan, ruang yang dulu sarat stigma dipulihkan menjadi tempat belajar bersama.

Titik balik terjadi pada 2023 saat Kampung Literasi mendapat pendampingan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Ruang belajar, Posyandu, dan lapangan serbaguna direvitalisasi, sementara bekas lokasi aktivitas negatif disulap menjadi tempat belajar yang layak.

“Sejak ada pendampingan dari Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, anak-anak kini punya ruang belajar yang aman dan nyaman, dan warga semakin yakin bahwa perubahan ini bisa terus berlanjut,” ujar Ocha.

BACA JUGA:Kanwil Kemenkum Sumsel Harmonisasi Perubahan Perbup OKU tentang Tambahan Penghasilan ASN

BACA JUGA:Herman Deru Dukung Program Makan Bergizi Gratis, Sumsel Siap Jadi Contoh Nasional.

Kini, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) gratis berjalan setiap hari, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) digelar tiga kali sebulan, dan bank sampah warga menghasilkan Rp400–480 ribu per bulan untuk operasional.

Orang tua yang belum mampu membayar biaya pendidikan bisa menyetor sampah ke bank sampah, dan hasilnya digunakan untuk honor guru relawan serta kebutuhan belajar anak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait