Iklan BANNER IDUL ADHA MEDIA 1447 H - PEMPROV SUMS
Iklan Banner Hari Pers Nasional - Empat Lawang
Iklan Astra Motor

Sinergi TPID Sumsel Sukses Kendalikan Inflasi di Tengah El Nino & Tahun Ajaran Baru

Sinergi TPID Sumsel Sukses Kendalikan Inflasi di Tengah El Nino & Tahun Ajaran Baru

Sinergi TPID Sumsel Sukses Kendalikan Inflasi di Tengah El Nino & Tahun Ajaran Baru-Foto:Dokumen Palpos-

PALEMBANG, PALPOS.CO - Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatatkan inflasi sebesar 0,06% (mtm), meningkat terbatas dari kondisi bulan sebelumnya yang tercatat deflasi sebesar 0,24% (mtm).

Secara tahunan, inflasi Sumsel tercatat sebesar 2,60% (yoy), sedikit meningkat dari bulan sebelumnya 2,50% (yoy) sejalan dengan tren inflasi nasional yang tercatat turut mengalami kenaikan menjadi 3,19% (yoy) dari sebelumnya 2,88% (yoy). 

Dijelaskan Bambang Pramono, Kepala Bank Indonesia Wilayah Sumatera Selatan, capaian ini mencerminkan terjaganya stabilitas harga serta efektivitas sinergi pengendalian inflasi di daerah, sehingga memberikan keseimbangan antara menjaga daya beli masyarakat sembari tetap memastikan kesejahteraan produsen.

Secara bulanan, inflasi terutama didorong oleh peningkatan harga sejumlah komoditas utama, antara lain daging ayam ras (0,33%), emas perhiasan (0,07%), beras (0,02%), kacang panjang (0,02%), dan jagung manis (0,01%). 

BACA JUGA:Melalui Hari Lahir Kejaksaan, Kajati Sumsel; Teladani Nilai Luhur Pahlawan

BACA JUGA:Perkuat Evaluasi Produk Hukum Daerah, Kemenkum Sumsel Terima Koordinasi Pemkot Palembang

"Peningkatan harga daging ayam ras dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan di tengah penurunan produktivitas, dampak melambatnya pertumbuhan ayam yang tidak optimal pada cuaca panas sehingga memperpanjang masa pemeliharaan," terangnya. 

Adapun harga emas perhiasan meningkat sejalan dengan penguatan harga emas global yang mendorong penyesuaian harga emas domestik, sedangkan kenaikan harga beras disebabkan penurunan pasokan dari petani, dan kenaikan harga bahan baku plastik kemasan di tengah peningkatan permintaan dengan kembali operasionalnya program MBG.

"Tekanan inflasi pada September 2026 diprakirakan akan cenderung meningkat, antara lain dipengaruhi oleh potensi gangguan pasokan pangan hortikultura imbas El Nino yang menyebabkan kondisi kemarau yang lebih kering dan curah hujan yang diprakirakan berada di bawah normal," ujarnya.

Selain itu, normalisasi aktivitas sekolah yang telah kembali berjalan secara penuh pada Agustus diprakirakan turut mendorong permintaan terhadap komoditas pangan, khususnya daging ayam ras dan telur ayam ras.

BACA JUGA:Kemenkum Sumsel Lakukan Monev Literasi Hukum di Dua Perguruan Tinggi

BACA JUGA:Terima Audiensi BRIDA, Kemenkum Sumsel Siap Kawal Perda dan Sentra Kekayaan Intelektual

Lebih lanjut, potensi tekanan inflasi diprakirakan datang dari komoditas emas seiring dengan perkembangan harga emas global.

Dalam menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi dan sinergi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: