Iklan Astra Motor

Kembung Asam Pedas, Kuliner Tradisional yang Tetap Bertahan di Tengah Tren Makanan Modern

Kembung Asam Pedas, Kuliner Tradisional yang Tetap Bertahan di Tengah Tren Makanan Modern

Kembung Asam Pedas tetap bertahan dengan cita rasa segar, pedas, dan kaya rempah.-Fhoto: Istimewa-

PALPOS.CO - Di tengah maraknya tren kuliner modern seperti makanan Korea, Jepang, hingga hidangan viral berbasis keju dan saus krim, masakan tradisional Indonesia tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Salah satu hidangan yang masih bertahan dan terus digemari lintas generasi adalah Kembung Asam Pedas, sajian khas yang dikenal dengan cita rasa segar, pedas, dan kaya rempah.

Kembung Asam Pedas merupakan olahan ikan kembung yang dimasak dengan kuah bercita rasa asam dan pedas.

Hidangan ini banyak ditemukan di wilayah pesisir Sumatra, khususnya di Riau, Jambi, Kepulauan Riau, hingga Sumatra Barat.

BACA JUGA:Stik Kentang Crispy, Camilan Lokal yang Kian Digemari Berbagai Kalangan

BACA JUGA:Camilan Sehat Bikin Nagih: Sawi Gulung Ayam Lezat dan Bergizi untuk Keluarga, Begini Cara Buatnya!

Namun, popularitasnya kini telah meluas ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan menjadi menu andalan di sejumlah rumah makan tradisional.

Ikan kembung dipilih sebagai bahan utama bukan tanpa alasan. Selain mudah didapat dan harganya relatif terjangkau, ikan ini dikenal memiliki kandungan gizi tinggi, terutama protein dan omega-3.

Tekstur dagingnya yang lembut namun padat dinilai sangat cocok dipadukan dengan kuah asam pedas yang kuat dan beraroma tajam.

Menurut sejumlah pelaku kuliner, kekuatan utama Kembung Asam Pedas terletak pada racikan bumbunya.

BACA JUGA:Tumis Genjer Pedas, Kuliner Tradisional yang Kembali Naik Daun di Tengah Tren Makanan Nusantara

BACA JUGA:Tumis Oyong Teri Pedas, Sajian Sederhana yang Kian Digemari Masyarakat

Bahan-bahan seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih, lengkuas, jahe, serai, dan kunyit menjadi fondasi utama rasa.

Sementara unsur asam biasanya berasal dari asam kandis, asam jawa, atau belimbing wuluh, tergantung tradisi daerah masing-masing.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait