Memperingati World Sleep Day, Mari Menguak Fakta Ilmiah Emosi "Senggol Bacok" bersama Garmin
Memperingati World Sleep Day, Mari Menguak Fakta Ilmiah Emosi "Senggol Bacok" bersama Garmin-Foto:dokumen palpos-
PALPOS.CO - Memperingati World Sleep Day (Hari Tidur Sedunia) yang tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadan, kesadaran akan pentingnya kualitas istirahat menjadi lebih krusial dari sebelumnya.
Bulan suci seringkali dimulai dengan semangat tinggi untuk beribadah dan harapan menurunkan berat badan.
Namun, realita di lapangan sering berkata lain: emosi menjadi labil dan tubuh terasa lemas meski makan banyak saat sahur atau berbuka.
"Circadian Misalignment" dan Anjloknya Tidur REM
BACA JUGA:Festival Hoki Yamaha 2026 Meriahkan Tradisi Cap Go Meh di Pulau Kemaro
BACA JUGA:Grand Filano Run The City: Fun Run Anak Muda Palembang Bergaya Kekinian
Banyak yang mengira rasa lemas dan sumbu pendek (mudah marah) saat puasa semata-mata karena lapar dan haus. Padahal, penyebab utamanya adalah kekacauan jam biologis tubuh.
Sleep Coach, Vishal Dasani menjelaskan bahwa selama bulan puasa, tantangan tubuh bukan hanya durasi tidur yang berkurang karena sahur, tetapi juga perubahan waktu makan yang memaksa tubuh mencerna saat seharusnya beristirahat. Kondisi ini dikenal sebagai circadian misalignment.
"Tantangan terbesar saat Ramadan bukan pada menahan lapar, tapi pada manajemen tidur.
Data menunjukkan bahwa proporsi tidur REM (Rapid Eye Movement) bisa anjlok drastis dari yang normalnya 24% menjadi hanya 10% atau kurang selama bulan puasa," ujar Vishal.
BACA JUGA:Pemekaran Wilayah Sulawesi Tenggara: Ini Ibu Kota Baru Kabupaten Muna Pasca Pembentukan Kota Raha
"Fase REM ini krusial untuk regulasi emosi dan pemrosesan mental. Ketika Fase ini berkurang drastis - performa kerja menurun, sulit berpikir jernih serta kritis, dan secara psikologis kita jadi lebih mudah tersulut emosi atau cranky," tambahnya.
Kenapa Makan "Balas Dendam" Bikin Tubuh Lemas dan Otak "Lemot"?
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




