Kebijakan PPDB Baru Picu Keresahan, Komisi I DPRD Prabumulih Gelar RDP dengan Disdik
Ketua Komisi 1 dan kadisdik melaporkan hasil RDP kepada Ketua DPRD Prabumulih.-Foto:Dokumen Palpos-
PRABUMULIH, PALPOS.CO - Kebijakan pembatasan jumlah rombongan belajar (rombel) pada tahun ajaran 2026/2027 mulai menuai perhatian serius di Kota Prabumulih.
Aturan yang tertuang dalam Permendikdasmen Nomor 26 Tahun 2025 tersebut mewajibkan setiap sekolah menyesuaikan jumlah rombel dengan ketersediaan ruang kelas, sehingga tidak diperkenankan lagi menerima siswa melebihi kapasitas.
Menyikapi hal ini, DPRD Kota Prabumulih melalui Komisi I menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Prabumulih.
RDP tersebut digelar sebagai respons atas keresahan masyarakat yang khawatir anak-anak mereka tidak mendapatkan sekolah sesuai pilihan.
BACA JUGA:Gerakan Hijau Prabumulih Digenjot, Pemkot Tanam Pohon Buah untuk Lingkungan dan Ketahanan Pangan
BACA JUGA:PHR Zona 4 Dorong Pendidikan Inklusif, Edukasi Migas dan Beasiswa Jadi Andalan Cetak Generasi Unggul
Ketua Komisi I DPRD Prabumulih, Riza Ariansyah SH, menjelaskan bahwa rapat tersebut membahas dampak kebijakan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terkait penyesuaian rombel di setiap satuan pendidikan.
Menurutnya, kebijakan ini berdampak langsung terhadap jumlah kelas yang tersedia, khususnya di tingkat Sekolah Dasar (SD).
Selama ini, sejumlah sekolah di Prabumulih diketahui mengalami kelebihan kapasitas siswa. Namun dengan aturan baru, justru jumlah kelas harus dikurangi agar sesuai standar nasional.
“Contohnya di SD, terutama kelas 1. Biasanya satu sekolah bisa membuka banyak kelas, tapi sekarang harus dibatasi, misalnya hanya empat rombel. Ini tentu menjadi kendala besar bagi masyarakat,” ujar Riza.
BACA JUGA:Unit PPA Satreskrim Polres Prabumulih Tangkap dan Tahan Pelaku KDRT yang Viral di Medsos
Riza menambahkan, pembatasan ini berpotensi membuat banyak calon siswa tidak tertampung di sekolah pilihan pertama mereka.
Opsi yang diberikan adalah mendaftar ke sekolah terdekat, namun solusi tersebut dinilai belum efektif.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




