Iklan Astra Motor

Hidup Sebatang Kara Ditemukan Tewas Mulut Berbusa

Hidup Sebatang Kara Ditemukan Tewas Mulut Berbusa

OLAH TKP : Tampak petugas inafis Polres Muara Enim melakukan olah TKP dan evaluasi korban yang ditemukan meninggal di dalam rumahnya yang diduga sakit.-Foto:Dokumen Palpos-

MUARA ENIM, PALPOS.CO - Warga Kelurahan Pasar III, Kecamatan MUARA ENIM, Kabupaten MUARA ENIM, mendadak heboh.

Pasalnya, seorang bujangan bernama Irwanto (54) warga Jl Kol H Burlian Gang Veteran RT 05, RW 04, Kelurahan Pasar III, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim, ditemukan tewas di pintu rumahnya, Rabu 14 Oktober 2026, sekitar pukul 06.30 WIB.

Korban saat ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia dengan kondisi badan korban telah kaku dan mengeluarkan buih pada mulutnya.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, kejadian tersebut terungkap sekitar pukul 06.30 WIB, pada saat salah satu warga akan berangkat mengantar anaknya untuk ke sekolah dan melintas didepan rumah korban secara tidak sengaja melihat seorang laki-laki tergeletak di pintu rumahnya dengan kondisi telah terkapar dan mengeluarkan buih pada mulutnya. 

BACA JUGA:Muara Enim Komitmen Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

BACA JUGA:Patroli Perintis Tingkatkan Keamanan dan Hadirkan Rasa Aman di Muara Enim

Kemudian warga tersebut menghubungi pihak RT dan Kelurahan Pasar III Muara Enim serta Polres Muara Enim. 

Selanjutnya Polres Muara Enim melalui Unit Inafis Sat Reskrim Polres Muara Enim melaksanakan olah TKP dan mengevakuasi korban menuju RSUD MH Rabbain Muara Enim untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dari informasi para tetangga korban, bahwa korban adalah anak semata wayang. Dan semenjak kedua orangtuanya meninggal praktis hidupnya sebatang kara hingga akhir hayatnya.

Masih dikatakan para tetangganya, dahulu korban adalah anak yang pintar dan bergelar sarjana bahkan sempat diterima bekerja di salah satu perusahaan tambang ternama.

BACA JUGA:Baru Tiga Hari Dipasang, Empat Kotak Sampah Raib

BACA JUGA:Karhutla, Nyaris Hanguskan Satu Rumah di Karang Raja

Namun korban terpaksa berhenti bekerja, karena kedua orangtuanya tidak rela anaknya semata wayang bekerja jauh diluar daerah Muara Enim. 

Setelah berhenti, korban mulai terganggu kesehatan kejiwaannya dan berobat secara rutin bersama orangtuanya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: