Selain Mirip Raja Ampat, Pulau Ekor Tikus di Banyuasin ‘Istana’ Udang

Sabtu 15-07-2023,11:12 WIB
Reporter : Mesi
Editor : Zen Bae

Istimewanya jika naik angkutan sungai, Anda akan disambut lumba-lumba dan burung migran asal Siberia.

Burung migran ini hanya datang sekali dalam setahun, bulan Oktober sampai Desember. 

Air surut merupakan waktu yang tepat untuk melihat burung migran mencari makan di lumpur di Taman Nasional Sembilang.

Apalagi destinasi ekowisata, yakni lokasi wisata berwawasan lingkungan dan pelestarian alam  sangat disukai oleh wisatawan. 

Bupati Banyuasin H. Askolani mengatakan masterplan sedang dibuatkan untuk mengajak investor berinvestasi di sektor pariwisata. 

Sejumlah destintasi wisata di Sungsang Kecamatan Banyuasin II tidak kalah dengan gugusan pulau di Raja Ampat, Papua.

Kelebihannya masih sangat asri dan alami, bahkan belum memiliki nama. 

Potensi alam yang luar biasa ini  dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dengan  mengedepankan pelestarian lingkungan. 

Askolani  membeberkan, Banyuasin  memiliki Taman Nasional Berbak Sembilang yang telah diusulkan menjadi cagar biosfer Unesco. 

Di Taman Nasional ini dapat dijumpai hutan rawa gambut dan selalu dikunjungi burung migran asal Siberia setiap Oktober. 

Dalam pengembangan ekowisata ini tentunya butuh inovasi dengan tetap mengedepankan perlindungan lingkungan. 

Askolani juga mengajak kalangan swasta untuk turut andil dalam pengembangan ekowisata di kabupaten yang 60 persen wilayahnya merupakan perairan.  

Kembali ke Pulau Ekor Tikus, dulunya dikenal sebagai  habitat terbesar perikanan dan udang yang besar-besar. 

Luasnya perairan kabupaten Banyuasin, membuat daerah ini kaya akan penghasilan perikanan dan pertaniannya. 

Sejarah atau cerita dahulu tentang suburnya Bumi Sedulang Setudung itu sampai saat ini masih terlihat nyata.

Bupati Askolani menambahkan di Pulau Ekor Tikus merupakan  tempat habitatnya udang yang sangat banyak jumlahnya. 

Kategori :