“Banyak yang membuat nasi campur tapi tidak paham esensi rempah dan teknik memasaknya.
Rasa jadi berbeda jauh dari aslinya,” ujar Chef Dewa Anom, seorang koki tradisional Bali yang aktif dalam pelatihan kuliner.
Untuk itu, sejumlah komunitas kuliner dan yayasan budaya di Bali mulai mengadakan pelatihan memasak bagi generasi muda, termasuk dokumentasi resep asli agar tidak punah.
Nasi Campur Bali bukan sekadar makanan, melainkan representasi dari kekayaan budaya, sejarah, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali.
Di tengah arus modernisasi, mempertahankan keaslian rasa dan semangat gotong royong dalam proses pembuatannya menjadi tantangan sekaligus harapan.
Dengan dukungan masyarakat, pelaku usaha kuliner, dan wisatawan yang menghargai budaya lokal, Nasi Campur Bali dipastikan akan terus menjadi primadona yang menggugah selera dan identitas kuliner Indonesia di mata dunia.