Ketua Tim DEN 401 FK Unsri, dr. Ariesti Karmila, menjelaskan bahwa vaksin DBD sebenarnya telah tersedia di Indonesia, namun masih bersifat berbayar dan hanya tersedia di rumah sakit swasta.
Oleh karena itu, bantuan hibah vaksin sebanyak 5.000 dosis yang diterima FK Unsri menjadi peluang besar untuk menjangkau anak-anak dari keluarga yang kurang mampu.
“Alhamdulillah, FK Unsri mendapatkan bantuan vaksin DBD yang bisa kami distribusikan secara gratis kepada anak-anak ,” ungkap dr. Ariesti.
Program vaksinasi ini akan dilaksanakan di 60 sekolah yang tersebar di wilayah kerja 10 Puskesmas, yakni Padang Selasa, Gandus, Taman Bacaan, Pembina, Kalidoni, 4 Ulu, Kertapati, Makrayu, dan Sematang Borang.
Pemilihan sekolah didasarkan pada data dari Pemkot Palembang mengenai daerah dengan insiden DBD tertinggi.
Program vaksinasi ini menyasar anak-anak usia 6 hingga 10 tahun, kelompok usia yang dinilai paling rentan terhadap infeksi DBD.
Menurut dr. Ariesti, meskipun vaksin ini juga dapat diberikan kepada orang dewasa, fokus utama tetap pada anak-anak karena mereka merupakan kelompok yang paling terdampak.
“Kegiatan ini sudah dimulai sejak akhir November 2025 dan berjalan dengan lancar. Kami juga melakukan pemantauan terhadap anak-anak yang telah divaksin maupun yang belum, untuk memastikan efektivitas dan keamanan vaksin,” jelasnya.
Bagi masyarakat umum yang ingin mendapatkan vaksin DBD namun tidak termasuk dalam program ini, dr. Ariesti menyarankan untuk mengakses layanan vaksinasi di rumah sakit swasta.
Namun, ia mengingatkan bahwa biaya vaksin ini cukup tinggi, yakni sekitar Rp700.000 per suntikan, dan dibutuhkan dua kali suntikan untuk efektivitas maksimal.
“Karena itu, kami sangat bersyukur Palembang mendapatkan bantuan vaksin gratis. Tidak semua kota seberuntung ini, karena ada beberapa daerah yang harus membeli vaksin sendiri,” pungkasnya. (*)