Laksan, Kuliner Tradisional Palembang yang Terus Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

Sabtu 17-01-2026,11:48 WIB
Reporter : Dahlia
Editor : Rhyca

Di sejumlah pasar tradisional Palembang, seperti Pasar 16 Ilir dan Pasar Kuto, laksan masih mudah ditemui pada pagi hari.

BACA JUGA:Chicken Roll Homemade, Lezat, Ekonomis dan Higienis: Bisa Dibuat Sendiri di Rumah

BACA JUGA:Otak-Otak Chili Oil, Cita Rasa Tradisional dengan Sentuhan Pedas Modern

Salah satu penjual laksan, Siti Aisyah, mengaku telah berjualan laksan selama lebih dari 20 tahun. Setiap hari ia mulai memasak sejak dini hari untuk memenuhi pesanan pelanggan tetapnya.

“Biasanya habis sebelum jam sepuluh pagi. Pembeli kebanyakan orang tua, tapi sekarang anak muda juga mulai suka,” kata Siti saat ditemui di lapaknya, Selasa (—).

Ia menambahkan, meskipun banyak makanan kekinian bermunculan, laksan tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.

Harga yang terjangkau dan rasa yang mengenyangkan menjadi alasan utama. Seporsi laksan dijual dengan harga antara Rp10.000 hingga Rp15.000, tergantung isian dan lokasi penjualan.

Keberadaan laksan juga sering dijumpai dalam berbagai acara adat dan keluarga di Palembang.

Pada momen tertentu, seperti arisan, pengajian, atau pertemuan keluarga besar, laksan kerap disajikan sebagai menu utama.

Hal ini menunjukkan bahwa laksan bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Pemerintah daerah melalui dinas pariwisata turut mendorong pelestarian kuliner tradisional seperti laksan.

Dalam beberapa festival kuliner yang digelar, laksan selalu menjadi salah satu menu unggulan. Upaya ini diharapkan dapat memperkenalkan laksan kepada wisatawan luar daerah maupun mancanegara.

“Kuliner tradisional adalah aset pariwisata. Laksan memiliki potensi besar karena rasanya unik dan tidak ditemukan di daerah lain,” ujar perwakilan Dinas Pariwisata Kota Palembang.

Namun, tantangan tetap ada. Ketersediaan ikan sebagai bahan utama dan regenerasi penjual menjadi perhatian tersendiri.

Tidak banyak generasi muda yang tertarik untuk meneruskan usaha kuliner tradisional. Oleh karena itu, diperlukan dukungan berbagai pihak agar laksan tetap lestari.

Dengan cita rasa khas dan nilai budaya yang tinggi, laksan menjadi simbol kekayaan kuliner Palembang yang patut dijaga.

Kategori :