Banyak konsumen berasal dari kalangan orang tua yang ingin bernostalgia, namun tidak sedikit pula generasi muda yang mulai mengenal dan menyukai kue ini.
BACA JUGA:Soto Lamongan, Kuliner Khas Jawa Timur yang Tetap Bertahan di Tengah Arus Modernisasi
BACA JUGA:Laksan, Kuliner Tradisional Palembang yang Terus Bertahan di Tengah Arus Modernisasi
Salah satu pedagang Kue Putu, Slamet (52), mengaku telah berjualan selama lebih dari 25 tahun.
Ia mengatakan bahwa meskipun persaingan dengan jajanan modern semakin ketat, Kue Putu tetap memiliki pelanggan setia.
“Setiap sore masih ada saja yang mencari. Banyak yang bilang kangen rasanya, kangen suasananya,” ujarnya.
Namun, tantangan tetap ada. Perubahan gaya hidup, berkurangnya minat generasi muda untuk berjualan makanan tradisional, serta meningkatnya harga bahan baku menjadi kendala tersendiri.
Selain itu, tidak semua daerah masih memiliki pengrajin alat tradisional pembuat Kue Putu, sehingga sebagian pedagang harus beralih ke peralatan modern.
Di sisi lain, munculnya tren pelestarian budaya lokal memberi harapan baru bagi keberlangsungan Kue Putu.
Beberapa pelaku usaha kuliner mulai menghadirkan Kue Putu dengan inovasi rasa, seperti cokelat, keju, hingga matcha, tanpa meninggalkan bentuk dan konsep aslinya.
Kue Putu juga mulai dipasarkan melalui media sosial dan platform daring, menjangkau konsumen yang lebih luas.
Pemerhati budaya kuliner menilai bahwa Kue Putu memiliki potensi besar untuk terus bertahan, asalkan ada upaya serius dalam pelestarian dan promosi.
Edukasi kepada generasi muda mengenai nilai budaya dan sejarah makanan tradisional menjadi langkah penting.
Selain itu, dukungan dari pemerintah daerah melalui festival kuliner dan pelatihan UMKM dinilai dapat membantu menjaga eksistensi jajanan tradisional ini.
Kue Putu bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang identitas dan memori kolektif masyarakat.
Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan cerita panjang tentang tradisi, kebersamaan, dan keberlanjutan budaya.