Palembang dipilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan pemantauan aktif tidak hanya karena tingginya kasus di kota ini, tetapi juga melihat kesiapannya, dan berdasarkan diskusi dengan para ahli, Kementerian Kesehatan, dan Dinas Kesehatan setempat.”
Prof. Dr. dr. Mgs. Irsan Saleh, M.Biomed, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, menyampaikan, “Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya secara konsisten mendukung dan menjalankan setiap upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Palembang secara khusus dan masyarakat Sumatera Selatan secara umum.
Kami melakukan upaya ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni tiga pilar utama yang menjadi pedoman kami sebagai akademisi.
Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue akan memperkuat pendidikan berbasis riset, menghasilkan bukti ilmiah yang dapat dijadikan dasar dalam pembuatan kebijakan kesehatan, dan wujud nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat yang terdampak dengue.
Oleh karena itu, kami merasa terhormat dipercaya sebagai lead dari insiatif Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Palembang.
Peran strategis ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk mendukung upaya pencegahan dengue berbasis data di tingkat daerah.
Kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan Kota Palembang, serta Takeda menjadi elemen penting dalam memastikan inisiatif ini berjalan secara terkoordinasi, berbasis ilmiah, dan memberikan manfaat nyata bagi penguatan pencegahan dengue di wilayah Sumatera Selatan.”
Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), Penanggung Jawab Kegiatan Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Nasional, menyatakan, “Pemantauan aktif ini bertujuan memperkuat upaya perlindungan terhadap dengue melalui pendekatan yang lebih menyeluruh dan berbasis pemantauan kesehatan jangka panjang.
Kegiatan vaksinasi beserta pemantauannya yang diresmikan hari ini merupakan bagian dari Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue multinegara yang juga dilaksanakan di Thailand dan Malaysia.
Di Indonesia, program pemantauan aktif ini berlangsung di tiga kota, yaitu Jakarta, Palembang, dan Banjarmasin, dalam periode tiga tahun.
Di Palembang, pelaksanaannya dilakukan melalui kolaborasi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan Kota Palembang, dan puskesmas setempat, dengan melibatkan anak-anak yang divaksinasi maupun yang tidak divaksinasi, sesuai dengan kesediaan orang tua untuk berpartisipasi.
Melalui pemantauan yang terstruktur, kami berharap dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kesehatan anak-anak di wilayah dengan beban dengue yang tinggi, sekaligus memperkuat upaya pencegahan dengue ke depan secara berkelanjutan.” Prof. Sri menambahkan bahwa di luar pemantauan aktif ini, vaksinasi dengue juga telah diberikan pada anak Sekolah Dasar di beberapa kota seperti Balikpapan, Samarinda, Kutai Kartanegara, Probolinggo dan Minahasa Utara, atas inisiatif Pemda setempat.
Ia menegaskan bahwa vaksinasi merupakan salah satu inovasi di bidang kesehatan yang aman dan efektif dalam mencegah penyakit infeksi berbahaya yang dapat menyebabkan kematian.
“Orang tua menerima dengan baik dan vaksinasi yang diberikan pada anak-anak aman.
Oleh karena itu hasil dari pemantauan aktif ini sangat dinantikan sebagai dasar pemberian vaksinasi dengue dalam program nasional untuk menyongsong “Zero dengue death” di tahun 2030, atau paling tidak kita dapat menurunkan 50% kematian dan 25% angka kejadian dengue,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Arif Abdillah, Head of Medical Affairs, PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan, “Sebagai mitra jangka panjang Indonesia, Takeda berkomitmen untuk mendukung upaya berkelanjutan dalam melindungi masyarakat dari dengue.