Bumbu yang digunakan dalam pindang tulang terbilang sederhana namun kaya karakter.
BACA JUGA:Risol Matcha, Camilan Kekinian yang Memadukan Tradisi dan Sentuhan Jepang
BACA JUGA:Ceker Mercon Kian Digemari, Sensasi Pedasnya Bikin Ketagihan
Bawang merah, bawang putih, cabai merah, kunyit, lengkuas, serai, dan daun salam menjadi dasar aromatiknya.
Tambahan daun kemangi di akhir proses memasak memberikan aroma segar yang khas.
Tak jarang, potongan nanas muda dimasukkan untuk menghadirkan sensasi asam-manis alami yang menyegarkan.
Di Palembang sendiri, pindang tulang sering disajikan bersama nasi putih hangat dan sambal terasi.
Kombinasi tersebut menciptakan pengalaman makan yang menggugah selera, terutama saat disantap bersama keluarga.
Hidangan ini juga kerap hadir dalam acara adat, pertemuan keluarga besar, hingga perayaan hari besar keagamaan.
Menariknya, setiap daerah memiliki variasi pindang yang berbeda. Selain pindang tulang sapi, masyarakat Sumatra Selatan juga mengenal pindang ikan patin dan pindang ayam.
Namun, pindang tulang tetap memiliki tempat tersendiri di hati para penikmat kuliner karena tekstur empuk daging di sela-sela tulang serta sensasi menyeruput sumsum yang menjadi daya tarik tersendiri.
Seiring perkembangan zaman, inovasi pun mulai dilakukan tanpa menghilangkan keaslian rasa.
Beberapa restoran modern menghadirkan pindang tulang dengan penyajian lebih kontemporer, seperti menggunakan mangkuk keramik elegan atau menambahkan irisan cabai rawit segar sebagai topping.
Ada pula yang mengurangi kadar minyak agar lebih sesuai dengan gaya hidup sehat masyarakat perkotaan.
Dari sisi gizi, pindang tulang sapi juga dinilai memiliki manfaat tersendiri. Kaldu tulang dikenal mengandung kolagen, protein, serta sejumlah mineral seperti kalsium dan fosfor yang baik untuk kesehatan tulang dan sendi.
Meski demikian, para ahli gizi tetap mengingatkan agar konsumsinya tidak berlebihan, terutama bagi penderita kolesterol tinggi, mengingat kandungan lemak pada tulang sapi.