Ia kemudian masuk ke kotak penalti dan melepaskan tembakan mendatar yang gagal dijangkau Mike Maignan. Bola bersarang ke gawang dan membawa Lazio unggul 1-0 pada menit ke-26.
BACA JUGA:Hasil Chelsea vs Newcastle 0-1: Anthony Gordon Jadi Penentu, The Blues Tertahan di Posisi Lima.
BACA JUGA:Hasil Liga Champions: PSG Bungkam Chelsea 5-2, Selangkah ke Perempat Final.
Gol tersebut langsung mengubah dinamika pertandingan. Milan mencoba meningkatkan intensitas serangan, tetapi solidnya pertahanan Lazio membuat mereka kesulitan menciptakan peluang bersih hingga babak pertama berakhir.
Memasuki babak kedua, pasukan Massimiliano Allegri mencoba bangkit. Tekanan demi tekanan dilancarkan ke lini pertahanan Lazio.
Christian Pulisic sempat mendapatkan dua peluang emas di awal babak kedua. Namun satu tembakannya berhasil diamankan kiper Motta, sementara peluang lainnya melambung jauh di atas mistar.
Kebuntuan membuat Allegri melakukan perubahan taktik. Rafael Leao dan Youssouf Fofana ditarik keluar, digantikan oleh Nicklas Fullkrug dan Christopher Nkunku.
Pergantian ini sempat memicu momen panas di bangku cadangan. Leao terlihat emosional setelah digantikan, menandakan adanya ketegangan di dalam tim saat tekanan semakin besar.
Pada menit ke-75, harapan Milan sempat kembali muncul ketika Athekame berhasil menjebol gawang Lazio. Namun kegembiraan itu hanya berlangsung sesaat.
VAR menganulir gol tersebut karena terjadi handsball sebelum proses gol tercipta.
Di sisa waktu pertandingan, Milan terus mencoba menekan. Namun disiplin pertahanan Lazio membuat Rossoneri frustrasi hingga peluit akhir dibunyikan.
Kekalahan ini kembali memperlihatkan masalah klasik Milan musim ini: inkonsistensi dan lini serang yang belum menemukan kombinasi paling efektif.
Absennya Adrien Rabiot juga terasa sangat berpengaruh pada keseimbangan permainan. Tanpa sosok motor penggerak di lini tengah, Milan terlihat kehilangan ritme permainan.
Duet Rafael Leao dan Christian Pulisic yang dipercaya Allegri di lini depan juga belum menunjukkan efektivitas maksimal.
Di saat kompetisi memasuki fase krusial, Milan justru kembali kehilangan momentum.
Jika situasi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Rossoneri bukan hanya gagal mengejar Inter, tetapi juga harus mulai waspada terhadap tim-tim yang mengintai dari bawah klasemen.