Namun di sinilah momen krusial terjadi. Eksekusi penalti Aaron Martin berhasil ditepis dengan gemilang oleh Di Gregorio.
BACA JUGA:Gasperini Buru Akhiri Kutukan Saat Roma Tantang Inter Era Baru Chivu.
BACA JUGA:FIFA Matchday Juni 2026: Timnas Indonesia Dapat Dua Uji Coba.
Penyelamatan ini bukan hanya menggagalkan gol, tetapi juga mematikan harapan Genoa untuk kembali ke dalam pertandingan.
Setelah momen tersebut, Juventus kembali mengambil alih kendali. Meski sempat menciptakan beberapa peluang tambahan melalui Jonathan David dan Arkadiusz Milik, tak ada gol tambahan tercipta hingga peluit panjang berbunyi.
Secara statistik, Juventus memang unggul. Penguasaan bola mencapai 62 persen, dengan 16 tembakan berbanding 12 milik Genoa. Namun efektivitas dan ketenangan dalam penyelesaian akhir menjadi pembeda utama.
Kemenangan ini membawa Juventus semakin dekat ke zona Liga Champions.
Dengan koleksi 57 poin, mereka kini hanya terpaut satu angka dari Como yang berada di posisi keempat. Persaingan menuju empat besar pun semakin panas dan penuh tekanan.
Lebih dari sekadar tiga poin, kemenangan ini menjadi sinyal kuat bahwa Juventus belum menyerah dalam perebutan tiket elit Eropa. Konsistensi permainan dan solidnya lini belakang menjadi modal penting di sisa musim.
Di sisi lain, Genoa harus kembali mengevaluasi performa mereka. Meski sempat memberikan perlawanan, kurangnya efektivitas di momen krusial membuat mereka pulang tanpa poin.
Juventus kini berada di jalur yang tepat. Jika performa ini terus terjaga, bukan tidak mungkin Bianconeri akan kembali menjadi kekuatan utama di Liga Italia—dan ancaman serius bagi para pesaing di papan atas.