Dan di situlah PSG mulai mengambil alih cerita.
BACA JUGA:Hasil Final AFF Futsal 2026! Indonesia Tumbang 1-2 dari Thailand.
BACA JUGA:Hasil Perempat Final Liga Champions: Barca Menang Namun Gugur, Atletico Madrid Melaju Semifinal
BACA JUGA:Hasil Liga Seri A: Comeback Inter Milan! Tertinggal 2-0, Nerazzurri Hajar Como 4-3.
Menit ke-72 menjadi titik balik yang menghancurkan. Dembélé, dengan kecepatan dan ketenangannya, menerima umpan dari Kvaratskhelia sebelum melepaskan tembakan kaki kiri yang tak mampu dihentikan.
Gol itu seperti palu yang memukul mental Liverpool.
Tertinggal, Liverpool terpaksa bermain lebih terbuka. Tapi alih-alih mencetak gol, mereka justru kembali dihukum.
Di masa tambahan waktu, Dembélé sekali lagi menunjukkan kelasnya. Memanfaatkan assist Bradley Barcola, ia mencetak gol kedua sekaligus memastikan kemenangan PSG.
Brace tersebut bukan hanya menutup laga, tetapi juga mengunci dominasi total PSG dalam dua leg.
Statistik sebenarnya tidak sepenuhnya mencerminkan hasil. Liverpool unggul dalam penguasaan bola dan jumlah tembakan. Namun, sepak bola tidak dimenangkan oleh angka—melainkan oleh efektivitas.
Dan PSG menang telak dalam hal itu.
Kekalahan ini menjadi pukulan keras bagi Liverpool di era baru mereka. Tersingkir tanpa mencetak gol dalam dua pertandingan menunjukkan adanya celah besar, terutama di lini depan.
Tekanan kini semakin besar bagi Arne Slot untuk membuktikan kapasitasnya di level tertinggi Eropa.
Sebaliknya, PSG melangkah ke semifinal dengan penuh percaya diri. Performa solid, pertahanan disiplin, dan lini serang yang tajam membuat mereka menjadi kandidat kuat juara musim ini.
Siapa pun lawan berikutnya—Bayern Munchen atau Real Madrid—satu hal pasti: PSG bukan lagi sekadar penantang. Mereka adalah ancaman nyata.
Dan jika Dembélé terus bermain seperti ini, Eropa sebaiknya bersiap.