Budaya modifikasi juga tumbuh bersama popularitas motor tersebut. Anak muda kala itu berlomba memasang knalpot racing, karburator besar, hingga mengubah porting mesin demi mendapatkan performa maksimal.
BACA JUGA:Putaran Pembuka Moto3 Junior, Binaan Astra Honda Siap Taklukan Sirkuit Barcelona
BACA JUGA:Deru Legendaris Suzuki RC 100, Motor 2-Tak Irit yang Tak Pernah Mati Gaya
Tidak sedikit bengkel balap lokal yang lahir berkat tingginya permintaan setting mesin Force-1 untuk kebutuhan road race.
Kini, lebih dari dua dekade setelah masa kejayaannya, keberadaan Force-1 justru semakin diburu kolektor.
Unit dengan kondisi standar pabrik menjadi barang langka. Harga pasarannya terus naik, mulai dari kisaran Rp6 juta hingga puluhan juta rupiah tergantung tingkat orisinalitas dan kondisi mesin.
Bagi komunitas pecinta motor klasik, Force-1 bukan sekadar kendaraan lawas. Motor ini dianggap sebagai saksi perkembangan dunia balap bebek Indonesia sekaligus ikon era keemasan mesin 2-tak nasional.
Kemunculan penerusnya, Yamaha F1ZR, memang membawa teknologi lebih modern. Namun bagi banyak penggemar otomotif, aura liar dan karakter mentah Force-1 tetap sulit tergantikan.
Hari ini, suara khas motor 2-tak itu mungkin sudah jarang terdengar di jalan raya. Namun di hati para pecinta otomotif lawas, raungan Yamaha Force-1 masih hidup sebagai legenda yang tak pernah benar-benar hilang.