Karena dengan peningkatan volume pengangkutan batubara membuat mobilitas masyarakat menjadi sangat terdampak.
BACA JUGA:Diduga Dendam, Petani Tewas Duel Satu Lawan Satu Ungkap Pelaku Pembunuhan Setelah 42 Jam
BACA JUGA:Dorong Ketahanan Pangan Lewat Budidaya Jamur Tiram
Kemacetan lalu lintas diperlintasan sebidang sehingga waktu produktif masyarakat terbuang di jalan, roda perekonomian tersendat, dan yang paling krusial risiko keselamatan para pengguna jalan terus mengintai," beberapa Sumarni.
Oleh karena itu, sambung Sumarni, pembangunan flyover ini diharapkan menjadi solusi fundamental dan jawaban konkret untuk mengurai benang kusut kemacetan tersebut.
Kita ingin aktivitas ekonomi masyarakat lokal dan distribusi logistik nasional dapat berjalan berdampingan secara harmonis, aman, dan tanpa hambatan.
Direktur Portofolio PT KAI I Gede Darmayusa, mengatakan bahwa penandantangan kerjasama ini akan menjadi momen sejarah bagi kita semua dan tentu menjadi model di tempat-tempat yang lain di mana ada pihak pemerintah provinsi, Pemerintah Kabupaten BUMN, PT KAI dan pihak swasta yang bekerja sama dalam memperbaiki layanan terhadap publik sekaligus meningkatkan ketahanan energi.
"Flyover ini rencananya akan kita bangun sebanyak lima buah dimana masing-masing mempunyai tanggungjawab," ujarnya.
Dikatakan I Gede, saat ini, kita mengangkut batubara sekitar 50 juta ton pertahun.
Dan jika pembangunan seluruh flyover selesai maka daya angkut PT KAI bisa meningkat menjadi 100 juta ton pertahun. Selain itu, akan memperlancar arus lalulintas dan meningkatkan perekonomian masyarakat.
Direktur Utama PT Bukit Asam, Bambang Ismawan, pihaknya sangat menyambut baik kegiatan ini.
Namun lebih baik jika penandatanganan ini tidak hanya seremonial tetapi langsung aksi sehingga benar-benar nyata dan bermanfaat.
"Kita ini biasanya sudah tandatangan aksinya lama sehingga terkesan terkatung-katung.
Saya ingin kerja nyata, jangan sampai birokrasi menjadi penghalang sehingga pekerjaan ada hasilnya," tegas mantan Kasum TNI AD ini.
Gubernur Sumsel Herman Deru, mengatakan bahwa kegiatan ini adalah buah dari permasalahan kemacetan lalulintas yang disebabkan oleh angkutan truk batubara dahulu.
Dari permasalahan tersebut sehingga dirinya ketika menjabat sebagai Gubernur langsung melarang angkutan batubara untuk mengatasi crowdied lalulintas dari Kabupaten Lahat hingga Palembang.