Dalam sehari, ia mampu menjual ratusan potong dadar gulung bersama aneka jajanan tradisional lainnya.
BACA JUGA:Sambal Udang Tempoyak Kian Diminati, Cita Rasa Tradisional Mampu Menarik Generasi Muda
BACA JUGA:Kolak Durian Ketan Jadi Primadona Kuliner Tradisional, Perpaduan Rasa yang Kian Digemari Masyarakat
"Pembeli berasal dari berbagai usia. Ada yang membeli untuk sarapan, ada juga yang membawa sebagai suguhan saat ada tamu. Rasanya yang sederhana justru menjadi daya tarik tersendiri," ujarnya.
Tidak hanya dijual di pasar tradisional, dadar gulung kini juga mulai dipasarkan melalui media sosial dan layanan pemesanan daring. Berbagai pelaku usaha memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Kemasan yang lebih modern serta variasi rasa menjadi strategi agar produk tetap mampu bersaing di pasar.
Selain isian kelapa dan gula merah, beberapa produsen mulai menghadirkan inovasi berupa isian cokelat, keju, durian, kacang hijau, hingga selai buah.
Bahkan, sebagian pelaku usaha menciptakan dadar gulung dengan tampilan warna-warni menggunakan pewarna alami dari ubi ungu, buah naga, atau pandan agar lebih menarik bagi generasi muda.
Meski mengalami berbagai inovasi, banyak penikmat kuliner tetap menilai bahwa resep tradisional masih menjadi favorit.
Menurut mereka, cita rasa autentik yang diwariskan dari generasi ke generasi merupakan kekuatan utama yang tidak boleh dihilangkan.
Pakar kuliner menjelaskan bahwa keberadaan jajanan tradisional seperti dadar gulung memiliki nilai budaya yang tinggi.
Selain mencerminkan kekayaan bahan pangan lokal, proses pembuatannya juga menunjukkan kreativitas masyarakat dalam mengolah hasil pertanian menjadi makanan bernilai ekonomi.
Kelapa, tepung, santan, dan gula merah merupakan bahan yang mudah ditemukan di Indonesia. Hal tersebut menjadikan dadar gulung sebagai salah satu contoh pemanfaatan sumber daya lokal yang berkelanjutan.
Di sisi lain, penggunaan daun pandan atau daun suji sebagai pewarna alami dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan pewarna sintetis.
Dari sisi gizi, dadar gulung mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, sementara kelapa memberikan tambahan serat dan lemak nabati.
Meski demikian, para ahli mengingatkan agar masyarakat tetap mengonsumsi makanan manis dalam jumlah yang wajar sebagai bagian dari pola makan seimbang.