MUARA ENIM, PALPOS.CO - Miliki potensi hasil pertanian komoditas tebu, jagung, dan ubi kayu yang mencapai ribuan ton, Kabupaten Muara Enim dilirik menjadi salah satu daerah strategis penopang industri bioetanol nasional.
Hal tersebut disampaikan Plt Bupati Muara Enim Hj Sumarni, menghadiri rapat koordinasi pengembangan bioetanol bersama Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr Ir H Andi Amran Sulaiman MP, di kediaman pribadinya di Jakarta, Senin 21 September 2026.
Dalam rapat tersebut dihadiri oleh 44 kepala daerah dari berbagai wilayah potensial di Indonesia ini membahas urgensi percepatan mandatori bioetanol nasional.
Pemerintah pusat menekankan peran pemerintah daerah sangat krusial, terutama dalam hal penyediaan pasokan bahan baku yang berkelanjutan seperti tebu, singkong, dan jagung, serta dalam memfasilitasi investasi dan penyusunan regulasi lokal.
BACA JUGA:Karhutla di Kecamatan Sungai Rotan Berhasil Dipadamkan
BACA JUGA:42 Paket Sabu Gagal Beredar
Menanggapi arahan tersebut, Plt Bupati menyampaikan Kabupaten Muara Enim memiliki modal potensi pertanian yang sangat memadai untuk mendukung rantai pasok industri bioetanol tersebut.
Berdasarkan data sektor pertanian daerah, Muara Enim mencatatkan angka produksi yang signifikan, di antaranya produksi jagung dengan total luas lahan 53 hektare yang menghasilkan realisasi 2.828 ton, serta komoditas ubi kayu seluas 351 hektare dengan realisasi produksi mencapai 11.953 ton.
"Selain itu, pengembangan tebu juga mulai dirintis melalui luas panen di Kecamatan Gelumbang, Desa Talang Taling, seluas 5 hektare dengan estimasi produksi mencapai 500 ton," ujar Sumarni.
Sebagai langkah nyata di tingkat daerah, Plt Bupati menjelaskan Pemerintah Kabupaten Muara Enim siap menjalankan tiga strategi utama, yakni pemetaan dan penyediaan lahan, peningkatan kapasitas petani, serta percepatan perizinan investasi.
BACA JUGA:Muara Enim Diguyur Hujan Setelah Kemarau Panjang
BACA JUGA:Satu Hektare Lahan Mineral di Patra Tani Terbakar
Pemkab akan mengidentifikasi serta mengalokasikan lahan potensial maupun lahan kritis yang tidak produktif melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk penanaman komoditas bahan baku bioetanol.
Tidak hanya fokus pada ketersediaan lahan, Pemkab Muara Enim juga memprioritaskan peningkatan kesejahteraan dan produktivitas petani lokal melalui pemberian pelatihan teknis budidaya, distribusi bantuan bibit unggul, hingga penyediaan pupuk berkualitas.
"Melalui intervensi hulu ini, kualitas hasil panen para petani diharapkan mampu memenuhi standar industri bioetanol secara konsisten dan berkelanjutan ke depannya," harapnya.