Muara Enim Dikepung Asap, Kualitas Udara Tidak Sehat

Jumat 09-10-2026,19:50 WIB
Reporter : Febi
Editor : Bambang

MUARA ENIM, PALPOS.CO - Kabut asap tebal menyelimuti Kota Muara Enim, menyebabkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai angka 112 atau masuk dalam kategori tidak sehat, Jumat 9 Oktobet 2026.

Penurunan kualitas udara ini diduga dipicu oleh akumulasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lokal, asap kiriman dari kabupaten tetangga, serta debu dari proyek pembangunan jembatan layang.

Pantauan dilapangan, kabut asap terlihat sedikit pekat bila dibandingkan hari sebelumnya sehingga jarak pandang sekitar 50 - 100 meter.

Selain itu, aroma asap terbakar sesekali terhirup terutama pada malam hari saat sedang istirahat tidur.

BACA JUGA:Pelaku Pembunuhan Remaja di Gelumbang Ditangkap di Bandung, Ternyata Motifnya Dipicu Masalah Ini

BACA JUGA:Karhutla Bakar 3 Hektar Sawah

Namun meski Kabut asap agak tebal, tetapi aktifitas warga masih berjalan normal terutama untuk anak-anak sekolah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Muara Enim saat ini adalah Dr H Rinaldo SSTP MSi, mengatakan bahwa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Muara Enim hari ini berada di angka 112, yang masuk dalam kategori Tidak Sehat.

Kondisi kabut asap ini dipicu oleh akumulasi partikel polutan seperti PM 2,5, PM 10, dan SO₂ akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kiriman asap dari kabupaten tetangga, serta dampak debu konstruksi lokal.

Lanjut Rinaldo, berdasarkan standar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, untuk pembagian kategori nilai ISPU yakni 0 – 50 (Sehat),  51 – 100 (Sedang), 101 – 200 (Tidak Sehat), 201 – 300 (Sangat Tidak Sehat) dan 300 keatas (Berbahaya). 

BACA JUGA:Dua Mahasiswa Tertangkap Edarkan Ekstasi

BACA JUGA:Pelaku Pencurian 27 Water Meter Bekas Diringkus

"Untuk di kota Muara Enim saat ini adalah 112, jika dilihat dari standar Kementerian kehutanan itu masuk dalam kategori tidak sehat," ujar Rinaldo.

Dijelaskan Rinaldo, bahwa ada beberapa faktor penyebab utama penurunan kualitas udara yakni Karhutla Lokal dimana sebelumnya telah terjadi Kebakaran lahan pada tanggal 6–7 Oktober di lokasi Merapi (masuk wilayah Hutan Kalamuddin dan mendekati TPA Bukit Kancil), serta kebakaran pada 8 Oktober malam di sekitar tambang Job Site MTBU Pama IUP PTBA.

Meski karhutla lokal ini sudah ditangani, sisa polutan masih tertinggal di atmosfer. Kemudian, adanya asap Kiriman (Transboundary Haze), dari kabupaten tetangga, yaitu Ogan Ilir (OI) dan Ogan Komering Ilir (OKI), membawa tambahan konsentrasi PM 2,5, PM 10, dan SO₂ ke wilayah Muara Enim. 

Kategori :