Andalkan Data Subsurface, Pertamina EP Adera Field Buka Potensi Migas Baru di BNG-082
Sumur BNG-082 berhasil dikembangkan melalui inovasi subsurface, menunjukkan potensi produksi minyak 302,4 BOPD dan gas 5,597 MMSCFD.-Foto:Dokumen Palpos-
Capaian tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan operasi hulu migas yang tidak hanya mengejar target produksi, tetapi juga menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas.
Potensi produksi Sumur BNG-082 mulai terlihat dalam uji alir awal atau initial flow test yang dilaksanakan pada 16 Agustus 2026.
BACA JUGA:Bansos 2026: Jadwal Cek Bansos serta Besaran Dana PKH dan BPNT Lengkap
Pada kondisi open flow, yakni kondisi aliran minyak dan gas secara natural tanpa hambatan pada katup kepala sumur atau choke, BNG-082 menunjukkan potensi produksi minyak mencapai 302,4 barel minyak per hari (BOPD).
Sementara untuk gas, sumur tersebut mencatat potensi produksi sebesar 5,597 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Menurut Budi, hasil tersebut menjadi gambaran bahwa lapangan yang telah memasuki fase mature masih memiliki peluang untuk dikembangkan apabila didukung strategi yang tepat dan pemanfaatan data bawah permukaan secara maksimal.
“Pencapaian ini menjadi bukti inovasi berbasis integrasi data subsurface yang terus dilakukan Pertamina EP dapat membuka potensi-potensi baru yang memungkinkan lapangan mature tetap bisa berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional,” katanya.
Tambahan produksi dari BNG-082 nantinya turut mendukung pencapaian target produksi Pertamina EP Adera Field yang telah ditetapkan dalam Work Program and Budget (WP&B) 2026.
Dalam target tersebut, produksi minyak Pertamina EP Adera Field diproyeksikan mencapai 4.537 BOPD, sedangkan produksi gas ditargetkan sebesar 22,21 MMSCFD.
Budi menjelaskan, keberhasilan pengembangan Sumur BNG-082 tidak datang secara tiba-tiba.
Ada proses panjang yang dilakukan tim, terutama dalam mengolah dan mengintegrasikan berbagai data bawah permukaan sebelum menentukan lokasi serta target lapisan yang akan dibor.
Pendekatan yang digunakan adalah layer-focused and data-driven development drilling.
Strategi tersebut membuat setiap lapisan reservoir dianalisis secara lebih detail sehingga keputusan pengeboran tidak hanya mengandalkan data umum struktur, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik masing-masing lapisan.
Dalam prosesnya, tim mengintegrasikan pemodelan geologi dengan interpretasi seismik multiatribut.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




