Malbi Sapi, Kuliner Khas Palembang yang Tetap Eksis di Tengah Modernisasi
Malbi sapi, kuliner khas Palembang yang kaya rempah dan sarat makna budaya, tetap bertahan di tengah derasnya modernisasi.-Foto:Istimewa-
Kalau terlalu cepat, rasanya tidak keluar,” ujarnya saat ditemui di rumah makannya di kawasan Seberang Ulu.
Menurut catatan sejarah kuliner daerah, Malbi sapi telah ada sejak lama dan berkembang di lingkungan masyarakat Palembang yang kaya akan pengaruh budaya Melayu dan Arab.
BACA JUGA:Kuliner Unik, Cumi Bunting Gulai Kian Digemari Masyarakat
BACA JUGA:Gulai Nangka, Kuliner Tradisional yang Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi
Hidangan ini sering disajikan dalam porsi besar untuk keperluan jamuan keluarga atau kegiatan adat.
Dalam tradisi masyarakat, Malbi bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol kebersamaan.
Penyajiannya dalam acara keluarga besar mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang masih dijunjung tinggi hingga saat ini.
Budayawan kuliner Sumatera Selatan, Ahmad Fadli, menyebutkan bahwa Malbi sapi adalah bagian dari identitas kuliner Palembang yang perlu terus dilestarikan.
“Malbi itu bukan hanya soal rasa, tapi juga sejarah. Ia mencerminkan bagaimana masyarakat Palembang mengolah daging dan rempah menjadi hidangan yang bernilai budaya tinggi,” jelasnya.
Seiring perkembangan zaman, Malbi sapi kini tidak hanya ditemukan pada acara adat, tetapi juga mulai masuk ke restoran dan rumah makan modern.
Bahkan beberapa pelaku UMKM mulai mengemas Malbi dalam bentuk frozen food agar lebih mudah dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Di media sosial, Malbi juga mulai mendapat perhatian dari generasi muda yang tertarik mencoba kuliner tradisional.
Banyak konten kreator kuliner yang mengulas hidangan ini sebagai salah satu “hidden gem” dari Palembang selain pempek dan tekwan.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah regenerasi pembuat Malbi tradisional yang mulai berkurang.
Generasi muda dinilai belum banyak yang tertarik mendalami proses memasak yang memakan waktu lama dan membutuhkan ketelatenan tinggi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



