Peran Kader KB Pria Dalam Meningkatkan Partisipasi Pria Dalam KB

Peran Kader KB Pria Dalam Meningkatkan Partisipasi Pria Dalam KB

--

Oleh :  Nurrasyidah, S.ST., M.Keb

PANDANGAN masyarakat yang selama ini menyatakan bahwa anggapan umum tentang kesejahteraan regeneratif adalah tanggung jawab perempuan kini terus berkembang.

Penelitian oleh Alemayehu dan Meskele (2017) menyatakan bahwa saat ini terdapat perubahan pemikiran, yaitu laki-laki juga mulai berbagi tanggung jawab dan ikut serta dalam pekerjaannya sebagai orangtua, masalah pendidikan seksual, termasuk masalah keluarga berencana (KB).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa melibatkan laki-laki dalam program KB dapat memberikan bantuan dan inspirasi bagi pasangan dalam mengambil Keputusan dalam memilih alat kontrasepsi yang mereka butuhkan bersama (Erawati, 2019).

Keterlibatan laki-laki juga sangat menentukan kemajuan program KB termasuk penggunaan alat kontrasepsi (Assefa dkk, 2021).

Masalah rendahnya cakupan KB bagi laki-laki disebabkan oleh tidak optimalnya pendidikan kesehatan dan upaya sosialisasi.

Selain itu, rendahnya pengetahuan laki-laki dan suami mengakibatkan rendahnya faktor dukungan politik, sosial, dan keluarga.

Berdasarkan penelitian Nugrahini dan Maharrani (2019), informasi dalam Pendidikan kesehatan, khususnya bagi laki-laki yang minim informasi dalam mengatur kelahiran, merupakan solusi terbaik untuk meningkatkan kerjasama laki-laki dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial, termasuk menjadi akseptor keluarga berencana.

Untuk itu, dibutuhkan korespondensi yang kuat dan pemahaman yang luas bagi laki-laki, diharapkan dapat menarik minat sebagai akseptor secara efektif.

Pendekatan yang melibatkan pengaktifan partisipasi kader laki-laki di masyarakat melalui penggunaan media booklet merupakan metode efektif agar laki-laki mendapat informasi yang baik (Hartati et all, 2020).

Keluarga berencana adalah suatu program yang bertujuan untuk mengatur berapa banyak dan jarak anak yang diinginkan.

Selanjutnya, pemerintah meluncurkan program atau strategi untuk mencegah dan menunda kehamilan (Kemenkes RI, 2011).

Inti dari program KB adalah menurunkan angka kelahiran secara total. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan strategi yang diurutkan menjadi tiga tahap, yaitu penjarangan, penundaan, dan penghentian.

Motivasi di balik strategi ini adalah untuk menyelamatkan ibu dan anak dari kehamilan dini, kelahiran yang terlalu dekat satu sama lain, dan kehamilan pada usia lanjut (Kemenkes RI, 2011).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: