Deinfluencing: Tren Baru untuk Meretas Paradigma Konsumerisme

Deinfluencing: Tren Baru untuk Meretas Paradigma Konsumerisme

--

Oleh: Putri Rosaini*

DI era globalisasi, kehidupan modern seringkali dikuasai oleh tren dan pengaruh dari para influencer.

Media sosial menjadi panggung utama di mana setiap pengguna dapat dengan mudah dipengaruhi oleh iklan yang dibuat oleh individu yang memiliki pengetahuan lebih tinggi dalam berbagai bidangnya.

Menurut Hariyanti & Wirapraja, influencer adalah sosok dalam media sosial yang memiliki jumlah pengikut signifikan, dan apa yang mereka sampaikan dapat memengaruhi perilaku pengikutnya.

Banyak influencer dari berbagai bidang menciptakan konten iklan dengan tujuan mempengaruhi masyarakat untuk membeli produk yang mereka promosikan.

BACA JUGA:Peran Kader KB Pria Dalam Meningkatkan Partisipasi Pria Dalam KB

Hal ini membawa dampak pada masyarakat konsumerisme, di mana keinginan untuk memiliki barang-barang baru terus tumbuh, menciptakan efek samping yang tidak diinginkan.

Namun, tren baru muncul di Indonesia pada tahun 2023 yang bertujuan untuk merubah pola pikir konsumerisme, yakni tren Deinfluencing.

Apa itu Deinfluencing?

Deinfluencing dapat diartikan sebagai gerakan atau tindakan yang dilakukan oleh influencer untuk mengurangi pengaruh tren dengan meyakinkan orang-orang untuk tidak membeli sesuatu.

BACA JUGA:Manfaat Stimulus Pijat Endorphin, Oksitosin dan Sugestif untuk Meningkatkan Produksi ASI

Influencer yang terlibat dalam konten deinfluencing berupaya meyakinkan bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup tidak harus terkait dengan kepemilikan materi dan barang-barang baru.

Mereka mengajukan argumen bahwa nilai-nilai seperti hubungan sosial, kesehatan, dan kebahagiaan batin seharusnya menjadi prioritas utama.

Tren deinfluencing banyak terjadi di media sosial, terutama di aplikasi TikTok, yang digunakan oleh banyak masyarakat Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: