Herman Deru Dukung Program Makan Bergizi Gratis, Sumsel Siap Jadi Contoh Nasional.
Herman Deru Dukung Program Makan Bergizi Gratis, Sumsel Siap Jadi Contoh Nasional.-Fhoto: humas pemprov sumsel-
Bantuan bibit cabai dan bawang juga diberikan untuk menjaga keseimbangan suplai dan permintaan yang berpotensi memicu inflasi.
Gerakan yang dicanangkan pada November 2021 tersebut terbukti efektif menjaga stabilitas harga.
BACA JUGA:BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Sumsel Sabtu 28 Februari 2026, Palembang dan OKI Berpotensi Hujan Sedang
BACA JUGA:Kemenkum Sumsel Dorong Percepatan Pelaporan Posbankum di Banyuasin
Bahkan, Sumsel berhasil meraih penghargaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) selama lima tahun berturut-turut.
“Saat Program MBG masuk, banyak daerah panik karena khawatir terjadi perebutan bahan pangan. Tapi Sumsel tidak, karena kita sudah punya fondasi kemandirian.
Telur tidak pernah kekurangan, daging ayam dan ikan air tawar melimpah. Ekosistem ekonomi tetap terjaga,” tegasnya.
Ia juga menyatakan keterbukaannya jika Badan Gizi Nasional (BGN) ingin menjadikan GSMP sebagai model percontohan nasional dalam mendukung Program MBG.
Herman Deru berharap, dengan fondasi pangan yang kuat, masyarakat—terutama ibu rumah tangga—tidak lagi khawatir terhadap lonjakan harga bahan pokok.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi Sumsel, kami mendukung penuh program ini. Anak-anak kita adalah aset dan investasi terbaik bangsa.
Dengan gizi yang baik, mereka siap menghadapi persaingan dunia di masa depan,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, mengapresiasi dukungan masyarakat Sumsel dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi nasional. Ia menyebut sekitar 2.000 orang terlibat aktif dalam implementasi MBG di Sumsel.
Menurutnya, pemenuhan gizi seimbang—mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan serat—menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Selain aspek kesehatan, program ini juga berdampak pada penguatan ekonomi lokal karena bahan pokok bersumber dari petani dan produsen daerah.
“Bahan pokok itu dari para petani. Ini bukan hanya soal gizi, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




