Iklan Banner Pemprov - Idul Fitri 1 Syawal 1447 H
Iklan Banner Idul Fitri 1447 Empat Lawang
Iklan Astra Motor

Kue Lapan Jam Khas Palembang, Warisan Kuliner Legendaris dengan Proses Unik Delapan Jam

Kue Lapan Jam Khas Palembang, Warisan Kuliner Legendaris dengan Proses Unik Delapan Jam

Kue lapan jam, kuliner khas Palembang yang bukan sekadar manis di rasa, tapi juga kaya makna.-Fhoto: Istimewa-

PALPOS.CO - Kue lapan jam, salah satu warisan kuliner khas Palembang, kembali mencuri perhatian masyarakat luas, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Kue tradisional ini dikenal bukan hanya karena rasanya yang legit dan teksturnya yang lembut, tetapi juga karena proses pembuatannya yang unik dan memakan waktu cukup lama, sesuai dengan namanya—delapan jam.

Kue lapan jam merupakan hidangan khas yang biasanya disajikan dalam acara-acara penting seperti perayaan hari besar, hajatan keluarga, hingga momen keagamaan.

Dalam budaya masyarakat Palembang, kue ini bukan sekadar makanan penutup, melainkan simbol kesabaran, ketelitian, dan kehangatan dalam kebersamaan.

BACA JUGA:Tumis Sayur Kubis, Hidangan Sederhana yang Kembali Naik Daun di Tengah Tren Makanan Sehat

BACA JUGA:Sambal Goreng Kentang: Hidangan Sederhana yang Kembali Jadi Tren

Proses pembuatan kue lapan jam tergolong tidak sederhana. Bahan-bahan utama yang digunakan meliputi telur dalam jumlah banyak, gula, mentega, serta susu kental manis.

Semua bahan tersebut dicampur dan diaduk hingga merata, kemudian dimasak dengan teknik kukus atau panggang menggunakan api kecil selama kurang lebih delapan jam.

Waktu yang panjang ini diperlukan agar adonan matang sempurna dan menghasilkan tekstur yang padat namun tetap lembut di mulut.

Menurut para pembuat kue tradisional di Palembang, kunci utama kelezatan kue lapan jam terletak pada kesabaran dalam proses memasaknya.

BACA JUGA:Pisang Salai, Warisan Kuliner Tradisional yang Bertahan di Tengah Modernisasi

BACA JUGA:Tumis Kulit Melinjo, Sajian Tradisional yang Kaya Rasa dan Nilai Gizi

Api yang terlalu besar dapat merusak tekstur, sementara waktu yang kurang akan membuat kue tidak matang sempurna. Oleh karena itu, kue ini sering dianggap sebagai simbol ketelatenan dan dedikasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, kue lapan jam mulai mendapatkan perhatian lebih luas berkat media sosial.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: