TPID Sumsel Rapatkan Barisan, Perkuat Sinergi Kendalikan Inflasi
TPID Sumsel Rapatkan Barisan, Perkuat Sinergi Kendalikan Inflasi-Foto:Dokumen Palpos-
PALPOS.CO - Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat sinergi dan koordinasi dalam menjaga stabilitas harga serta ketahanan pangan di daerah.
Pada September 2026, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatatkan inflasi sebesar 0,21% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,06% (mtm).
Secara tahunan, inflasi Sumsel tercatat sebesar 2,55% (yoy), sedikit menurun dari 2,60% (yoy) pada Agustus 2026.
Sedangkan tren inflasi nasional tercatat mengalami kenaikan menjadi 3,28% (yoy) dari sebelumnya 3,19% (yoy).
BACA JUGA:Menteri PKP Setujui Usulan Herman Deru, Sumsel Dapat Tambahan 3.000 Unit Rumah Bersubsidi
BACA JUGA:Operasi Sikat Musi 2026, 20 Personel Brimob Intensifkan Patroli di Palembang
Capaian pengendalian inflasi tersebut menjadikan Sumatera Selatan sebagai salah satu daerah dengan tingkat inflasi tahunan (yoy) dan bulanan (mtm) yang relatif terkendali secara baik di Regional Sumatera maupun Nasional.
Secara bulanan, inflasi terutama didorong oleh peningkatan harga sejumlah komoditas utama, antara lain beras (0,14%), cabai merah (0,09%), cabai rawit (0,03%), telur ayam ras (0,01%), dan pisang (0,01%).
Kenaikan harga beras terjadi seiring meningkatnya harga di tingkat produsen serta distributor yang dipengaruhi kenaikan harga gabah dampak dari stok bahan baku di penggilingan yang semakin terbatas dan kenaikan biaya pengemasan.
Adapun kenaikan harga komoditas hortikultura merupakan dampak dari musim kemarau berkepanjangan yang menekan produktivitas. Selanjutnya, kenaikan harga telur ayam ras utamanya dipengaruhi oleh meningkatnya biaya pakan.
BACA JUGA:Menuju IRH 2027, Kemenkum Sumsel Ikuti Mekanisme Penilaian IRH secara Virtual
BACA JUGA:Polda Sumsel Ungkap 208 Kasus 3C dan 392 Kasus Premanisme dalam Delapan Hari Operasi Sikat Musi 2026
Memasuki Oktober 2026, tekanan inflasi diprakirakan akan cenderung meningkat, antara lain dipengaruhi oleh potensi gangguan pasokan pangan hortikultura imbas El Nino yang menyebabkan kondisi kemarau yang lebih panjang dan curah hujan yang diprakirakan berada di bawah normal.
Selain itu, tekanan harga daging ayam ras diprakirakan masih berlanjut seiring perkembangan biaya pakan dan permintaan pangan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




