3. Masjid Agung Surakarta
Sejarah Masjid Agung Surakarta tak bisa dipisahkan dari pemindahan Keraton Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745 oleh Paku Buwana II.
Merujuk dari situs resmi Masjid Agung Surakarta, perpindahan istana dari Kartasura itu merupakan imbas dari peristiwa Geger Pacina yang pecah pada tahun 1743.
Geger Pacina adalah perang hebat yang dipicu pembantaian etnis Tionghoa di Batavia.
Paku Buwana II menginstruksikan perpindahan sesuai tradisi para raja terdahulu memindahkan keraton mereka, Ibu kota dipindahkan lewat prosesi kirab agung.
Prosesi pemindahan keraton dari Kartasura ke Sala dilaksanakan pagi hari, Rabu 17 Sura Je 1670 atau 17 Februari 1745.
Tiba di Solo, sebagaimana dicatat Raden Koesoemadi dalam artikel Soerajarta Adiningrat 200 Jaar di Majalah Djawa, bangsal pengrawit dipasang di Pagelaran yang telah disiapkan para abdi dalem.
BACA JUGA: Pancuran Telu di Jawa Tengah: Keindahan Alam dan Warisan Budaya yang Mengagumkan
Dalam upacara itu, Paku Buwana II Resmi menamai Dea Sala dengan sebutan Surakarta Hadiningrat. Titah sang nata itu tak terbantah sampai sekarang.
Sebagian warga Kartasura dan Surakarta sebagaimana dikutip arkeolog Inajati Adrisijanti, bahan bangunan Majid Agung Kartasura ikut dibawa pindah ke Surakarta dalam rangkaian momentum istimewa tersebut.
Sesuai tradisi Islam, andil setiap orang dalam pembangunan masjid memang tak boleh diabaikan.
Bahkan meskipun masjid itu dipindahkan, kini masjid Agung Keraton Kartasura sudah tidak ada lagi.
Lahan bekas Masjid Agung Kartasura disebelah barat alun-alun dikenal warga sekitar melalui toponimi atau nama tempat yang tersisa dalam tradisi lisan warga setempat.
BACA JUGA:Pemandian Air Panas Cipari, Sajikan Kesejukkan dan Keindahan Alam
Tradisi lisan yang menyatakan bahwa Majid Agung Kartasura dibawa ke Sala ini memang masuk akal dan relevan.
Salah satu alasannya karena bangunan Masjid Agung Kartasura tidak permanen alias terbuat dari kayu, sehingga konstruksi kayu masjid bisa ikut diindahkan ke Surakarta.