Dalam proses pencalonan ini, Bahlil tidak hanya mengandalkan rekam jejak kepengurusannya di Golkar, tetapi juga dukungan yang luas dari para pemilih internal partai.
Sesuai dengan aturan partai, seorang calon Ketua Umum harus mendapatkan minimal 30 persen dari total suara pemilih.
"Saya membawa dukungan 469 dari total 558 suara. Artinya, sudah melebihi 80 persen," kata Bahlil dengan penuh keyakinan.
Dukungan ini menunjukkan bahwa mayoritas suara di internal partai mendukung Bahlil untuk maju sebagai calon Ketua Umum.
Dengan angka dukungan yang signifikan ini, Bahlil semakin yakin akan peluangnya untuk memenangkan kompetisi.
Kompetisi yang Indah di Golkar
Bahlil menegaskan bahwa keputusannya untuk maju dalam pemilihan ini adalah bentuk ikhtiar dan dedikasi untuk berkontribusi lebih dalam Partai Golkar.
Ia mengakui bahwa kompetisi dalam pemilihan Ketua Umum adalah hal yang wajar dalam demokrasi internal Golkar.
"Saya pikir ini bentuk ikhtiar. Andaikan pun ada yang mengikuti kompetisi selain saya, itu dalam demokrasi Golkar adalah hal yang biasa saja dan tidak perlu diperdebatkan," ungkapnya.
Bahlil juga menekankan bahwa ia selalu memegang prinsip bahwa jabatan harus diperoleh melalui kompetisi, bukan pemberian. Baginya, kompetisi di Golkar adalah sesuatu yang indah karena bertanding untuk bersanding.
"Dan kebetulan, mazhab saya adalah mazhab kompetisi, tidak pernah jabatan pemberian, tapi jabatan kita kompetisi. Dan kompetisi di Golkar itu indah, karena bertanding untuk bersanding," tambahnya.
Rekam Jejak Bahlil di Partai Golkar