PALPOS.ID - Di tengah derasnya gelombang kuliner modern dan internasional yang masuk ke berbagai negara, salah satu makanan tradisional Jepang yang tetap eksis dan digemari adalah Dango.
Makanan ringan berbentuk bola-bola kecil ini memiliki cita rasa manis yang unik dan tekstur kenyal yang membuat siapa saja yang mencicipinya ketagihan.
Tidak hanya lezat, Dango juga menyimpan nilai budaya dan sejarah yang menarik untuk diulas.
Dango adalah makanan ringan khas Jepang yang terbuat dari tepung beras ketan (mochiko) yang dibentuk menjadi bola-bola kecil, kemudian direbus dan biasanya disajikan di tusuk bambu.
BACA JUGA:Nikmatnya Mango Sticky Rice : Hidangan Tradisional Thailand yang Mendunia
BACA JUGA:Inovasi Kuliner dari UMKM Lokal: Nugget Pisang Jadi Primadona Baru di Pasar Camilan
Dango memiliki tekstur yang kenyal dan lembut, dengan rasa yang cenderung manis namun ringan.
Makanan ini sering disajikan bersama saus manis, seperti saus kacang merah (anko), saus kedelai manis (mitarashi), atau bahkan bubuk kedelai panggang (kinako).
Dalam budaya Jepang, Dango memiliki tempat khusus dan sering hadir dalam berbagai festival tradisional, terutama di musim semi saat bunga sakura mekar.
Misalnya, Hanami Dango adalah varian Dango yang populer saat menikmati pemandangan bunga sakura, terdiri dari tiga warna bola-bola Dango—merah muda, putih, dan hijau—yang melambangkan musim semi, salju yang mencair, dan dedaunan baru.
BACA JUGA:Roti Goreng Madu : Inovasi Camilan Tradisional yang Kembali Viral
BACA JUGA:Fenomena Roti Goreng Isi Keju : Camilan Kekinian yang Bikin Ketagihan
Dango telah menjadi bagian dari kuliner Jepang sejak berabad-abad lalu. Beberapa catatan sejarah menunjukkan bahwa Dango sudah ada sejak zaman Edo (1603-1868), dan kemungkinan bahkan lebih awal.
Pada masa itu, tepung beras adalah bahan makanan pokok dan menjadi dasar pembuatan berbagai makanan tradisional.
Selain sebagai camilan sehari-hari, Dango juga memiliki nilai ritual dalam budaya Jepang.
Dalam beberapa acara keagamaan dan festival, Dango dipersembahkan sebagai simbol rasa syukur dan doa untuk panen yang melimpah serta kesehatan keluarga.
BACA JUGA:Chicken Egg Roll, Camilan Lezat dan Praktis yang Kian Digemari Masyarakat
BACA JUGA:Cimol Keju, Camilan Jalanan yang Makin Populer di Kalangan Milenial
Dango memiliki banyak varian yang berbeda sesuai dengan daerah dan bahan pelengkap yang digunakan. Berikut beberapa varian Dango yang paling terkenal:
Varian ini disajikan dengan saus kedelai manis yang khas dan biasanya dipanggang sedikit sebelum disajikan agar saus meresap dan menghasilkan rasa gurih-manis yang sempurna.
Dango ini disajikan dengan olesan pasta kacang merah manis (anko). Kombinasi rasa manis dan tekstur kacang merah yang lembut menambah kenikmatan saat makan.
Dango tiga warna ini sangat ikonik dalam budaya Jepang. Warna merah muda, putih, dan hijau melambangkan musim semi, dan biasanya disantap saat festival hanami.
Dango yang dibuat dari tepung millet atau sorgum, varian ini cukup populer di wilayah tertentu di Jepang dan memiliki rasa yang sedikit berbeda dari Dango biasa.
Varian yang mengandung bubuk teh hijau (matcha), memberikan rasa teh yang harum dan sedikit pahit sebagai penyeimbang rasa manisnya.
Tidak hanya populer sebagai makanan tradisional, Dango juga sering muncul dalam budaya populer Jepang, seperti anime dan manga.
Misalnya, dalam anime “Clannad,” Dango menjadi simbol kehangatan keluarga dan persahabatan.
Bagi para wisatawan yang datang ke Jepang, mencicipi Dango merupakan salah satu pengalaman kuliner wajib.
Di berbagai festival jalanan dan pasar tradisional, Dango mudah ditemukan dan biasanya dijual dengan harga terjangkau.
Banyak toko dan kafe bahkan menawarkan variasi Dango yang inovatif, seperti Dango yang diberi topping es krim, cokelat, atau buah segar untuk menarik minat wisatawan muda.
Membuat Dango sebenarnya tidak terlalu sulit dan bahan-bahannya juga mudah ditemukan di toko bahan makanan Asia. Berikut cara sederhana membuat Dango:
Bahan:
Tepung ketan (mochiko) 200 gram
Air hangat 150 ml
Saus mitarashi (campuran kecap manis, gula, dan air) atau saus kacang merah sebagai pelengkap
Langkah:
Campurkan tepung ketan dengan air hangat sedikit demi sedikit hingga membentuk adonan yang kalis dan bisa dipulung.
Bentuk adonan menjadi bola kecil berukuran sekitar 2-3 cm.
Rebus bola-bola Dango dalam air mendidih hingga mengapung, angkat dan tiriskan.
Tusuk beberapa bola Dango dalam satu tusuk bambu.
Olesi dengan saus mitarashi atau sajikan bersama saus kacang merah.
Mengapa Dango Tetap Populer?
Dango tetap bertahan dan populer karena beberapa alasan.
Pertama, rasa manis dan teksturnya yang kenyal memberikan sensasi makan yang menyenangkan.
Kedua, Dango mudah dibuat dan bisa disajikan dalam berbagai varian sesuai selera.
Ketiga, nilai budaya dan tradisi yang melekat pada Dango membuatnya lebih dari sekadar camilan biasa — ia menjadi simbol kebersamaan, perayaan, dan keindahan musim di Jepang.
Dengan semakin berkembangnya tren kuliner Jepang di seluruh dunia, Dango juga mulai dikenal dan digemari di banyak negara, termasuk Indonesia.
Jika Anda belum mencoba Dango, ini saat yang tepat untuk mencicipi dan merasakan sensasi manis kenyal yang khas dari camilan tradisional Jepang ini.