Air cucian beras ini memberikan tekstur kental alami dan rasa yang unik tanpa membuat kuah terasa enek.
BACA JUGA:Sayur Bayam Tumis : Hidangan Sederhana yang Kaya Nutrisi dan Rasa
BACA JUGA:Urap Sayuran, Cita Rasa Tradisi Nusantara yang Tetap Bertahan di Era Modern
“Coto ini memang butuh kesabaran. Dari merebus daging sampai mencampur bumbu, semua harus pas.
Kalau tidak, rasanya bisa berubah,” ujar Rahmawati (45), penjual Coto Makassar di kawasan Jalan Gagak, Makassar, yang telah berjualan selama lebih dari 20 tahun.
Coto Makassar biasanya disajikan bersama burasa atau ketupat—dua jenis lontong khas Sulawesi Selatan. B
urasa terbuat dari beras yang dimasak bersama santan dan dibungkus daun pisang berbentuk pipih memanjang. Teksturnya lebih lembut dan gurih dibandingkan ketupat biasa.
Masyarakat Bugis dan Makassar meyakini bahwa kombinasi antara burasa dan coto merupakan simbol kebersamaan dan kekeluargaan, karena hidangan ini sering disajikan pada acara besar seperti lebaran atau pesta adat.
Selain itu, di meja makan juga selalu tersedia jeruk nipis, daun bawang, bawang goreng, dan sambal tauco sebagai pelengkap.
Semua elemen ini menyatu menciptakan harmoni rasa antara gurih, asam, dan sedikit pedas.
Kini, popularitas Coto Makassar tak hanya terbatas di wilayah Sulawesi Selatan. Di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Balikpapan, banyak rumah makan yang menjadikan Coto Makassar sebagai menu andalan.
Bahkan, di beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, hingga Belanda, hidangan ini mulai dikenal sebagai salah satu representasi kuliner tradisional Indonesia.
Salah satu diaspora asal Makassar di Kuala Lumpur, Andi Syahrir, membuka restoran bernama Coto Daeng sejak tahun 2017.
Ia mengaku banyak pelanggan dari berbagai negara yang tertarik mencicipi cita rasa autentik Coto Makassar.
“Awalnya mereka heran karena warna kuahnya gelap, tapi setelah mencoba, mereka suka. Katanya, rasanya mirip sup daging tapi lebih kompleks,” ujarnya.
Lebih dari sekadar makanan, Coto Makassar merupakan simbol identitas budaya masyarakat Sulawesi Selatan.