Proses menumis sambal hingga matang dan harum menjadi kunci utama untuk menghasilkan rasa yang seimbang antara pedas, gurih, dan sedikit manis. Udang biasanya dimasukkan terakhir agar tetap juicy dan tidak overcooked.
BACA JUGA:Gado-gado, Kuliner Tradisional Indonesia yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi
BACA JUGA:Pindang Ikan Patin, Kuliner Tradisional yang Terus Bertahan di Tengah Arus Modernisasi
Selain kelezatannya, sambal udang campur pete juga memiliki nilai gizi yang cukup baik.
Udang dikenal sebagai sumber protein hewani yang tinggi serta mengandung omega-3 yang bermanfaat bagi kesehatan jantung.
Sementara itu, pete meski sering dianggap kontroversial karena aromanya, mengandung serat, vitamin C, serta antioksidan.
Jika dikonsumsi dalam jumlah wajar, pete dipercaya dapat membantu pencernaan dan meningkatkan energi tubuh.
Popularitas sambal udang campur pete juga merambah ke media sosial. Banyak konten kreator kuliner membagikan video memasak dan ulasan menu ini, yang kemudian menarik minat warganet untuk mencoba sendiri di rumah.
Resep sambal udang campur pete pun semakin mudah ditemukan, dengan berbagai variasi tingkat kepedasan dan tambahan bahan seperti terasi, daun jeruk, atau gula aren untuk memperkaya rasa.
Di tengah naiknya harga bahan pangan, terutama cabai dan udang, sejumlah pedagang mengakui adanya tantangan dalam menjaga harga jual tetap terjangkau.
Namun demikian, sambal udang campur pete dinilai memiliki nilai jual tinggi karena porsinya yang fleksibel dan dapat dinikmati bersama lauk lain.
“Kami berusaha menyesuaikan porsi dan kualitas agar pelanggan tetap puas,” kata Ahmad, pengelola rumah makan di Bandung.
Tak hanya menjadi menu harian, sambal udang campur pete juga sering hadir dalam berbagai acara keluarga dan perayaan.
Hidangan ini kerap disajikan saat acara kumpul keluarga, syukuran, atau bahkan menu berbuka puasa. Kehadirannya dianggap mampu menciptakan suasana akrab karena dinikmati bersama-sama.
Pakar kuliner menilai sambal udang campur pete merupakan contoh nyata kekayaan kuliner Indonesia yang layak dipromosikan lebih luas.
Dengan pengemasan dan penyajian yang tepat, menu tradisional ini berpotensi menembus pasar internasional.