Siomay Udang, Kuliner Tradisional yang Terus Naik Kelas dan Digemari Semua Generasi

Minggu 25-01-2026,12:44 WIB
Reporter : Dahlia
Editor : Rhyca

Di sejumlah kafe dan restoran, siomay udang disajikan dengan tampilan modern, menggunakan piring keramik, saus kacang yang diolah lebih halus, serta tambahan pelengkap seperti salad segar atau sambal khas racikan chef.

BACA JUGA:Risol Mayo, Camilan Kekinian yang Terus Naik Daun di Tengah Tren Kuliner Modern

BACA JUGA:Mie Bangladesh, Kuliner Pedas Gurih yang Kian Digemari Masyarakat Indonesia

Inovasi ini membuat siomay udang tidak lagi dipandang sebagai sekadar jajanan pinggir jalan, tetapi juga sebagai hidangan yang layak disajikan dalam suasana formal.

Fenomena ini turut mendorong pelaku usaha kuliner rumahan untuk memproduksi siomay udang dalam bentuk frozen food.

Dengan kemasan vakum dan masa simpan yang lebih lama, siomay udang beku kini mudah ditemukan di marketplace dan media sosial.

Konsumen tinggal mengukusnya di rumah tanpa perlu repot membuat adonan dari awal.

Ahli kuliner dari Universitas Padjadjaran, Dr. Rina Kurniasih, menilai popularitas siomay udang menunjukkan bagaimana kuliner tradisional mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Siomay udang adalah contoh sukses akulturasi budaya yang terus berinovasi. Bahan tradisional dipadukan dengan teknik modern, sehingga relevan dengan gaya hidup masyarakat saat ini,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, siomay udang juga memberikan dampak positif bagi nelayan dan pelaku usaha kecil.

Permintaan udang yang stabil membantu perputaran ekonomi di sektor perikanan, terutama udang vaname dan udang windu yang banyak digunakan sebagai bahan baku.

Sementara itu, UMKM kuliner mendapatkan peluang untuk meningkatkan nilai jual produknya dengan diferensiasi bahan dan kemasan.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Harga udang yang fluktuatif sering kali menjadi kendala bagi pedagang kecil.

Ketika harga udang naik, sebagian pedagang terpaksa menaikkan harga jual atau mengurangi ukuran porsi.

Namun, sebagian besar pelaku usaha mengaku tetap mempertahankan kualitas demi menjaga kepercayaan pelanggan.

“Kalau kualitas turun, pembeli bisa langsung pindah. Jadi meski untungnya sedikit berkurang, yang penting rasa tetap terjaga,” kata Siti Aminah (35), produsen siomay udang rumahan di Depok.

Kategori :