BATURAJA, PALPOS.CO - Perum Bulog Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), menyerap sebanyak 1.665 ton gabah beras petani di OKU Timur untuk memenuhi kebutuhan pangan di wilayah setempat.
Kepala Bulog OKU, Junirman, Jumat (13/2) mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang menggencarkan penyerapan gabah hasil panen petani di OKU Timur yang sudah memulai masa panen.
Serapan beras dan Gabah Kering Panen (GKP) itu dilakukan selama musim panen sepanjang tahun 2026, terutama di wilayah OKU Timur sebagai salah satu daerah lumbung pangan terbesar di Sumatera Selatan.
Selama Januari-Februari 2026 tercatat sebanyak 1.665 ton gabah beras yang sudah diserap dari petani di beberapa desa di Kabupaten OKU Timur.
BACA JUGA:Dinilai Langgar Peraturan, Videotron, Reklame Rokok Jadi Sorotan Warga
BACA JUGA:16 Februari, Pengurus KONI OKU Yang Baru Akan Dilantik
Adapun desa-desa di OKU Timur yang sudah melaksanakan panen raya meliputi Cempaka, Cempaka 3 Ulu, Sumberharjo, Sumber Tani, Tanjung Mas, Tanjung Mulia, Sukamaju, Kurungan Nyawa II, Sungai Tuha Jaya, dan Tulang Bawang.
"Hasil panen di 10 desa ini cukup berlimpah sesuai harapan petani," katanya.
Bulog melakukan penyerapan dengan harga beli di tingkat petani sebesar Rp6.500/Kg untuk GKP, sedangan harga beli beras Rp12.000/Kg.
Untuk mengoptimalkan serapan gabah di desa-desa lainnya, lanjut dia, pihaknya menyiagakan lima posko pemantau meliputi di Kantor Bulog OKU dan empat gudang di wilayah Kabupaten OKU Timur guna mengetahui daerah mana saja yang berpotensi melaksanakan panen raya untuk diserap hasil panennya.
BACA JUGA:Perbaikan Jalan Cor Beton Batukuning - Kurup Jadi Skala Prioritas
BACA JUGA:Reward Atlet Peraih Medali Porprov Sumsel 2025 Dibayarkan Sebelum Lebaran
"Kami juga menggandeng TNI Kodim 0403 untuk menginformasikan daerah mana saja yang mendekati masa panen sekaligus mengedukasi petani agar melakukan panen tepat waktu," ujarnya.
Sementara, Sugiono salah seorang petani asal Desa Sumberharjo mengaku senang dengan harga serapan tersebut karena dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di wilayah itu.
"Dengan harga beli ditingkat petani yang ditetapkan oleh pemerintah melalui bulog tentunya kami lebih semangat dalam menanam padi," ujarnya. (len)