Fenomena ini juga mendorong pertumbuhan bisnis kuliner, dari warung kaki lima hingga restoran yang menawarkan menu inovatif.
Bahkan beberapa brand makanan instan meluncurkan varian bihun goreng instan yang bisa dimasak dalam 3–5 menit, menyasar konsumen sibuk yang tetap ingin menikmati hidangan lezat.
Meskipun enak, para ahli gizi mengingatkan untuk memperhatikan bahan dan cara memasak bihun goreng.
Penggunaan minyak yang berlebihan atau tambahan MSG bisa mengurangi nilai kesehatan hidangan ini.
Namun, bihun goreng tetap bisa menjadi pilihan sehat bila dimasak dengan minyak minimal, sayuran segar, dan protein rendah lemak.
Dr. Rina Prasetya, pakar gizi, mengatakan, “Bihun sendiri rendah lemak dan bebas gluten, jadi cocok untuk sebagian orang yang sensitif terhadap gandum.
Dengan menambahkan banyak sayuran dan sumber protein, bihun goreng bisa menjadi hidangan lengkap yang seimbang.”
Bihun goreng bukan hanya makanan sederhana yang mengenyangkan, tapi juga bagian dari warisan kuliner Indonesia yang kaya.
Fleksibilitas dalam penggunaan bahan, kepraktisan memasak, dan cita rasa yang nikmat menjadikannya favorit banyak kalangan.
Dari warung pinggir jalan hingga restoran modern, bihun goreng terus hadir di meja makan masyarakat Indonesia, membuktikan bahwa kesederhanaan bisa menjadi kelezatan yang tiada duanya.
Dengan inovasi yang terus berkembang, baik dari segi resep maupun penyajian, bihun goreng tetap relevan di era modern.
Baik untuk sarapan, makan siang, maupun makan malam, hidangan ini menawarkan kelezatan yang bisa dinikmati semua orang tanpa memandang usia atau latar belakang.
Bihun goreng, meskipun tampak sederhana, menyimpan cerita panjang tentang adaptasi, kreativitas, dan cita rasa nusantara.
Dan setiap gigitan mengingatkan kita akan kekayaan kuliner Indonesia yang tiada habisnya.