Momen krusial akhirnya datang di menit ke-79. Berawal dari skema serangan rapi, bola liar jatuh di kaki Politano di dalam kotak penalti.
BACA JUGA:FIFA Matchday Juni 2026: Timnas Indonesia Dapat Dua Uji Coba.
BACA JUGA:Indonesia di Pot 4 Piala Asia 2027, Peluang Kejutan atau Terjebak Grup Neraka.
Tanpa ragu, ia melepaskan tembakan mendatar yang tak mampu diantisipasi Mike Maignan. Gol! Stadion bergemuruh, dan Milan terdiam.
Kemenangan ini memperpanjang tren positif Napoli menjadi lima kemenangan beruntun di Serie A.
Momentum ini membuat mereka semakin percaya diri untuk terus menekan di papan atas, meskipun peluang Scudetto masih terbilang tipis.
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Milan. Bukan hanya kehilangan posisi kedua, tetapi juga memperlihatkan masalah serius yang belum terselesaikan—krisis di lini depan.
Minimnya penyelesaian akhir kembali menjadi sorotan. Dari total peluang yang tercipta, Rossoneri gagal menunjukkan ketajaman yang dibutuhkan di fase krusial musim.
Situasi ini membuat peluang juara Milan kian menipis. Dengan selisih tujuh poin dari pemuncak klasemen, Inter Milan, dan hanya tujuh laga tersisa, jalan menuju Scudetto hampir tertutup.
Kini, target realistis Milan adalah mengamankan tiket Liga Champions musim depan. Namun, tekanan semakin besar.
Beban kini berada di pundak pemain, pelatih, dan manajemen untuk segera menemukan solusi—terutama di lini serang yang terlihat tumpul di saat-saat menentukan.
Sementara itu, Napoli terus melaju dengan penuh keyakinan. Kemenangan ini bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga pernyataan bahwa mereka belum menyerah dalam persaingan elite Serie A.
Musim belum berakhir. Namun satu hal sudah jelas: kekalahan ini bisa menjadi titik balik—atau awal dari keruntuhan Milan di akhir musim.