BPTU HPT Sembawa Bekali Pegawai Teknik Menulis Press Release agar Dilirik Media Massa

Sabtu 30-05-2026,11:46 WIB
Reporter : Mesi
Editor : Dahlia

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Palembang Pos, Dian Fauzen, mengungkapkan bahwa setiap hari redaksi media menerima puluhan hingga ratusan press release dari berbagai instansi, perusahaan, maupun organisasi.

Namun, tidak semua rilis tersebut berakhir menjadi berita.

"Saya ingin membuka workshop ini dengan satu kenyataan yang mungkin agak pahit. Di ruang redaksi, setiap hari masuk puluhan bahkan ratusan press release. Namun jujur saja, sebagian besar gugur sebelum dibaca sampai selesai," ujarnya.

BACA JUGA:Konsekuensi Homeless Media: Masa Depan Pers Digital Dan Jalan Panjang Menata Ekosistem Informasi Indonesia

BACA JUGA:AMSI Sumsel Bahas Penguatan Organisasi Media Siber dan Komitmen Jurnalistik Profesional

Menurut Dian, kondisi tersebut bukan karena media enggan mempublikasikan kegiatan instansi, melainkan karena banyak rilis yang ditulis terlalu birokratis, formal, panjang, dan lebih menyerupai laporan kegiatan dibandingkan sebuah berita.

Ia mencontohkan banyak judul rilis yang terlalu kaku dan tidak menarik perhatian pembaca.

Sebagai contoh, judul seperti "Pelaksanaan Kegiatan Optimalisasi Pembibitan Ternak dalam Rangka Mendukung Program Ketahanan Pangan Tahun Anggaran 2026" dinilai terlalu panjang dan sulit menarik minat pembaca.

Sebaliknya, judul seperti "Sembawa Siapkan Bibit Ternak Unggul untuk Perkuat Ketahanan Pangan Sumsel" dinilai lebih ringkas, jelas, dan langsung menunjukkan manfaat bagi masyarakat.

"Cara membungkus informasi sangat menentukan apakah sebuah rilis dianggap penting atau tidak oleh redaksi," katanya.

Dian menjelaskan bahwa paradigma hubungan antara instansi dan media saat ini juga telah berubah.

Media tidak lagi hanya menjadi tempat menyebarkan pengumuman, tetapi berfungsi sebagai mitra strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Karena itu, setiap rilis sebaiknya tidak hanya menjelaskan kegiatan yang dilakukan, tetapi juga menunjukkan dampak dan manfaatnya bagi publik.

"Jangan hanya berpikir kami sudah melaksanakan kegiatan. Yang harus dijawab adalah apa manfaat kegiatan ini bagi masyarakat. Itu yang sering menjadi pembeda antara rilis yang langsung tayang dan rilis yang berakhir di folder arsip redaksi," tegasnya.

Dalam pemaparannya, Dian juga menjelaskan sejumlah kegiatan yang umumnya kurang memiliki nilai berita, seperti rapat internal, evaluasi rutin, seremoni biasa, pemotongan pita, atau penandatanganan dokumen formal.

Menurutnya, kegiatan semacam itu mungkin penting bagi internal organisasi, tetapi belum tentu menarik bagi pembaca media.

Kategori :