Pertamina Genjot Energi Bersih untuk Capai Target Net Zero Emission 2060

Kamis 04-06-2026,15:41 WIB
Reporter : Dahlia
Editor : Yati

BALI, PALPOS.CO - Pertamina terus memperkuat komitmennya dalam mendukung ketahanan serta transisi energi. Hal ini dijalankan melalui dual growth strategy.

Pertama, Pertamina berupaya memaksimalkan legacy bisnis (maximizing legacy business) yaitu memaksimalkan potensi nilai di aspek hulu, membangun fleksibilitas di kilang, melakukan transformasi bisnis retail fuel, serta memperluas infrastruktur dan layanan. Kedua, membangun bisnis rendah karbon (building low carbon business).

Hal tersebut disampaikan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, pada sesi diskusi panel bertema “Decarbonization : Global Technology Trends and Best Practices”. (Rabu, 3/6).

BACA JUGA:Desa Energi Berdikari Keliki Jadi Contoh Nasional, Pertamina Dorong Ekonomi Hijau Masyarakat

BACA JUGA:Pertamina Drilling dan Halliburton Jalin Kolaborasi Strategis untuk Proyek Energi

Sesi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan “World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific”, sebuah forum regional terkait transisi energi berkelanjutan di Asia Timur dan Pasifik, diinisiasi oleh “World Bank Group”.

Dalam pemaparannya "Accelerating Energy Transition Through Industrial Decarbonization and Low Carbon Business", Agung menjelaskan bagaimana transisi energi di jalankan dalam upaya mencapai target Net Zero Emission (NZE) di tahun 2060.

Agung mengatakan, Pertamina saat ini memiliki visi, menjaga keamanan energi nasional dan mendorong transisi energi melalui program dekarbonisasi terintegrasi dan membangun bisnis rendah karbon. Hal ini sejalan dengan Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto.

BACA JUGA:Pertamina NRE Gandeng Petani Tebu Perkuat Bioetanol Demi Swasembada Energi Nasional

BACA JUGA:AI dan Machine Learning Jadi Andalan Baru Pertamina

Dalam konteks Pertamina, jelas Agung, transisi energi yang dijalankan di Indonesia harus diseimbangkan dengan tantangan energi trilema yaitu Energy security, affordability dan juga sustainability.

"Dan di situ saya yakin Pertamina menjadi sebuah contoh, karena di saat dunia ini menghadapi banyak ketidakpastian secara geopolitik, dengan adanya konflik di berbagai belahan dunia, kemudian juga ketidakpastian mengenai bagaimana penanganan climate change," ujar Agung.

Inisiatif dan langkah untuk melakukan dekarbonisasi yang dilakukan Pertamina menjadi pembelajaran bagi para peserta dari berbagai negara.

BACA JUGA:Pertamina Hadirkan Energy AdSport Challenge di PGTC 2026

BACA JUGA:PHE Dorong Ketahanan Energi Nasional Lewat Dual Growth Strategy di IPA Convex 2026

Kategori :