“Pertamina mendorong pemanfaatan geothermal (panas bumi) sebagai energi bersih serta pengurangan flaring. Pertamina juga mengembangkan energi baru dan terbarukan melalui bisnis rendah karbon, seperti biodiesel, bioethanol, kemudian juga rencana pengembangan CCS/CCUS (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage),” urai Agung.
Dalam aspek dekarbonisasi, dilakukan pengantian peralatan berbahan bakar fosil dengan peralatan bertenaga listrik.
Program ini menghasilkan efisiensi energi sebesar 1,52 MMtCO2e (Million Metric Tons Of Carbon Dioxide), menyumbang 66,86 persen dari total upaya pengurangan emisi Pertamina.
BACA JUGA:Pertamina dan ASRI Energi Edukasi Edukasi Pelajar Jakarta soal Transisi Energi dan STEM
BACA JUGA:Pertamina Bukukan Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar Lewat UMKM Binaan di Inabuyer 2026
Dalam aspek bisnis rendah karbon, dilakukan melalui inovasi bahan bakar nabati (biofuel).
Diprediksi akan ada potensi penjualan biofuel sebesar 60 Juta kl pada tahun 2029, dengan proyek utama Bio Refinery Cilacap.
Pertamina berupaya memaksimalkan potensi listrik dengan kapasitas 1,4 GW (Gigawatt) dari panas bumi melalui proyek di Hululais dan Lahendong.
Salah satu proyek strategis yang tengah dikembangkan adalah Proyek Geothermal Lahendong Unit 7 & 8 yang telah masuk dalam Green Book Kementerian PPN/Bappenas untuk mendukung transisi energi dan pembangunan rendah karbon.
Masuknya proyek ini dalam Green Book membuka peluang dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan internasional, termasuk World Bank, sehingga dapat mempercepat pengembangan kapasitas panas bumi nasional sekaligus memperkuat bauran energi bersih Indonesia.
Pertamina juga berkomitmen mengurangi emisi metana (CH4) sebesar 40% dari emisi dasar pada tahun 2021. Di sektor hulu terdapat program zero flaring.
Program ini didukung dengan kampanye deteksi dan perbaikan kebocoran, melalui program Leak Detection & Repair Campaign atau LDAR. Program ini berhasil mengurangi emisi metana yang tidak terkontrol sebesar 30-39,7 persen.
Keberhasilan ini salah satunya berada di lapangan PEP Donggi Matindok, upaya ini dapat mengurangi kebocoran sebesar 68,4 persen pada tahun 2025.
Hal yang sama diterapkan di JOB Pertamina-Medco E&P Tomori, mengurangi emisi CH4 sekitar 30 persen pada tahun 2025.
Sementara PT Badak NGL, berhasil mengurangi emisi CH4 sebesar 38,7 persen pada tahun 2025.