Masyarakat sudah berupaya mengusahakan solusi atas kekurangan air seperti pembangunan sumur bor dan lain sebagainya hanya hal tersebut belum mencukupi kebutuhan.
BACA JUGA:Hindari Lubang Jalan, Pengendara Scoopy Tewas Ditabrak Truk
BACA JUGA:Jemaah Haji Asal Muara Enim Wafat di Tanah Suci
"Petani berharap agar JIAT yang dibangun pemerintah segera dapat difungsikan untuk mencukupi kebutuhan petani untuk penanaman IP 200, hanya saja hingga saat ini masyarakat belum bisa merasakan fungsi nyata dari pembangunan tersebut," katanya.
Luas keseluruhan ataran sekitar 700 hektar terbagi di desa Lubuk Emplas, Muara Lawai, Kepur, sementara di desa Tanjung Jati ini sekitar 132 hektar.
Pihaknya berharap bahwa JIAT segera bisa difungsikan untuk mengaliri sawah di ataran tersebut dengan luas kurang lebih 132 hektar dengan hasil panen rata-rata 10,5 ton per hektar.
Dalam keterangannya, bahwa JIAT ini termasuk pada proyek PSN, sehingga petani berharap segera diaplikasikan karena ada sekitar 500 Kepala Keluarga (KK) yang menggantungkan harapan terhadap lahan sawah garapan tersebut.
"Dari 500 KK tersebut 95 persen di antaranya merupakan petani, yang keseluruhannya berharap pada pengairan ataran tersebut, karena sudah berulang kali masyarakat mengalami gagal tanam saat penanaman padi IP 200 karena kurangnya air," ujarnya.(ozi)