Sebaliknya, apabila kualitas sumber daya manusia tidak dipersiapkan dengan baik, Bonus Demografi justru berpotensi menjadi beban pembangunan.
BACA JUGA:SDT Diproyeksikan Jadi Sentra Bawang Putih
BACA JUGA:Zallika Harumkan Nama Daerah di Ajang Putri Sriwijaya
Oleh karena itu, investasi terbesar yang harus kita lakukan mulai hari ini adalah investasi pada pembangunan manusia.
Lebih lanjut, Andi menyampaikan sesuai amanat Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, untuk memperbaiki kualitas SDM Kuncinya ada melalui tiga pilar utama pembangunan keluarga yakni Kesehatan, Pendidikan Karakter, dan Ketahanan Mental.
Pertama, Kesehatan, kita harus memastikan bahwa anak-anak yang lahir di Indonesia adalah anak-anak yang sehat fisik dan cerdas secara kognitif. Kita harus menuntaskan perang kita terhadap stunting.
Anak yang mengalami stunting tidak hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, tetapi yang paling berbahaya adalah perkembangan otaknya terhambat. Mereka akan kesulitan bersaing di era kecerdasan buatan dan otomatisasi masa depan.
Oleh karena itu, pemenuhan gizi seimbang sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan harus menjadi gerakan nasional di setiap dapur keluarga Indonesia.
Kedua, penguatan pendidikan karakter dan keterampilan abad ke-21. Keluarga adalah madrasah pertama, sekolah paling awal bagi setiap manusia.
Di sinilah nilai-nilai kejujuran, kerja keras, integritas, kedisiplinan, dan rasa cinta tanah air ditanamkan.
SDM unggul yang kita butuhkan untuk mengisi bonus demografi bukan hanya manusia yang pintar secara akademis, tetapi mereka yang memiliki karakter yang kokoh, adaptif, kreatif, dan mampu bekerja sama secara kolaboratif.
Ketiga, ketahanan mental dan spiritual. Di era yang penuh tekanan ini, gangguan kesehatan mental pada usia muda meningkat tajam.
Tugas keluarga adalah menjadi pelabuhan emosional yang stabil, tempat di mana anak-anak merasa dihargai, didengarkan, dan didukung, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang resilien, tidak mudah menyerah oleh tantangan zaman.
Masih dikatakan Andi, upaya perbaikan kualitas SDM dan penguatan karakter ini mustahil terwujud jika beban pengasuhan hanya diletakkan di atas pundak para ibu sendirian.
Karena peran Ayah di dalam rumah tangga bukan sekadar sebagai mesin pencari nafkah materi, tetapi keterlibatan aktif, kehadiran fisik, dan kedekatan emosional seorang ayah dalam proses pengasuhan anak adalah faktor determinan bagi pembentukan struktur kepribadian dan kestabilan emosi anak-anak kita.
"Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena yang disebut 'fatherless country' sebuah kondisi di mana secara fisik Ayah mereka ada di rumah, namun secara psikologis dan spiritual sosok Ayah itu absen dari kehidupan anak.